Rabu, 29 Januari 2014

Urgensi “Think Globally, Act Locally”



Saya tertarik dengan artikel pada laman www.darwinsaleh.com yang berjudul “Negara Harus Menjangkau Seluruh Rakyat”. Saya setuju dengan apa yang dipaparkan artikel tersebut. Berkenaan dengan hal itu, saya ingin mengelaborasi sub topik “Penghargaan pada Kepioniran Adalah Jalan menuju Kemajuan Bangsa” lewat gagasan ini.

Pada artikel berjudul “Negara Harus Menjangkau Seluruh Rakyat” dipaparkan sebuah kondisi yang timpang dimana disaat banyak pejuang-pejuang yang telah dengan ikhlas mengabdikan sebagian bahkan seluruh hidupnya untuk melakukan kerja-kerja sosial dan menginisiasi perubahan untuk negeri dengan tanpa bayaran, namun disisi lain, kehidupan pragmatis kota-kota besar serta megahnya panggung kekuasaan yang penuh dengan kemunafikan seperti tak peduli akan hal tersebut. Banyak kebijakan yang tidak tepat sasaran, yang disebut oleh artikel tersebut salah satunya adalah kebijakan subsidi BBM sehingga anggaran beratus-ratus triliun yang harusnya dapat digunakan untuk pemerataan pendidikan, pembangunan infrastruktur dan pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi di daerah atau pelosok-pelosok Indonesia menjadi sebatas mimpi di siang bolong pada hari ini.

            Tak bosan-bosannya saya mengajak kawan-kawan semua untuk mengingat amanat Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke IV tentang tujuan bangsa ini didirikan. Sebuah ikrar mulia, yakni memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial adalah sebuah manifestasi mimpi-mimpi para founding fathers yang dengan segenap jiwa dan raganya telah berhasil membawa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. Ya, pintu gerbang kemerdekaan, sebab sejatinya merawat kemerdekaan adalah perjuangan sepanjang masa yang penuh dinamika perubahan seiring dengan sifat zaman yang berubah-ubah.

Pemuda Membangun Desa


(Sumber : hmkmunud.wordpress.com)


Pemuda adalah nadi yang tidak dapat terpisahkan dari sejarah. Momentum kebangkitan nasional yang dahulu dipioneri oleh Boedi Oetomo dan kawan-kawan sejak tahun 1908 hingga melahirkan  konggres pemuda pertama di Batavia pada tahun 1926 dan akhirnya berhasil menyatukan seluruh pemuda Indonesia dalam sebuah konggres pemuda kedua yang menghasilkan ikrar kebangsaan serta persatuan yang kita kenal kini sebagai Sumpah Pemuda. 

Pada masa selanjutnya, generasi muda selalu menjadi bagian penting dalam perwujudan cita-cita nasional. Barisan kaum muda yang berani bersatu dalam barisan perjuangan itu tidak banyak secara kuantitas. Mereka adalah bagian dari creative minority, sedikit orang yang memutuskan sebagian waktunya disumbangkan untuk malam-malam dalam dialektika intelektual, berpikir untuk nasib bangsa yang lebih baik dan bermartabat.

Hari ini, tesis tentang creative minority tersebut nampaknya hampir dapat dipatahkan. Hal ini terlihat dari data statistik Kementrian Pemuda dan Olahraga yang pada Tahun 2007 menunjukkan organisasi kepemudaan di Indonesia berjumlah 191 jumlahnya mengalami peningkatan menjadi 229 organisasi pada tahun 2009.  Fakta ini menandakan bahwa pemuda Indonesia masih gemar untuk mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik melalui wadah organisasi kepemudaan. 

Yang menjadi pertanyaan adalah adakah relasi atau efek yang nyata dari peran pemuda masa kini kepada perubahan Indonesia yang lebih baik? Atau sejatinya mereka hanya gemar membicarakan hal-hal yang utopis, namun nirmakna? Memperbincangkan hal-hal yang ekslusif di menara gading namun tak pernah benar-benar menyentuh akar masalah yang terjadi di sekitar mereka?


(Sumber :  www.baltyra.com)

Tan Malaka (1926) memberikan sebuah warisan berharga, sebuah buku monumental yang selalu layak dan relevan untuk dibicarakan dari massa ke massa. Didalamnya, Tan mengungkapkan bahwa sebuah revolusi disebabkan oleh pergaulan hidup, suatu akibat tertentu dari tindakan-tindakan masyarakat. Fakta yang selalu kita dengar adalah bahwa desa adalah tempat dimana kemiskinan berada. Arus pembangunan yang berpusat di kota-kota memberi mitos bahwa daerah atau desa tidak pernah menjanjikan hal apapun untuk masa depan yang lebih baik. Akibatnya, kota semakin padat. Desa-desa ditinggalkan oleh para pemudanya. Kaum-kaum intelektual yang telah dididik oleh kota enggan kembali ke desa untuk mengamalkan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang telah didapatnya.

18 Desember 2013 lalu Pemerintah telah mengesahkan UU Desa yang disinyalir dapat menjadi angin segar bagi peningkatan kemandirian desa sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi desa. Hal ini hanya dapat terjadi apabila semua elemen ikut berpartipasi dalam menyukseskan visi besar ini. Besarnya anggaran yang akan digelontorkan ke desa ini harusnya bisa menjadi daya tarik bagi pemuda untuk kembali ke desa. Kepemimpinan di desa yang selama ini dianggap terdominasi oleh “kapasitas rendah” harus digantikan oleh pemuda yang mengaku agen perubahan. Paradigma pemuda harus diubah, seperti judul buku karangan Goris Mustaqim, yakni “Membangun Bangsa dari Desa”. Pemuda harus optimis dapat melakukan inovasi pada lahan desa yang selama ini dianggap “kering”.





Konsep Local Citizen Journalism

Dewasa ini, istilah Citizen Journalism (CJ) muncul seiring perkembangan media sosial dengan segala fitur pendukungnya. Pepih Nugraha (2012) dalam buku berjudul Citizen Journalism menyebut CJ sebagai kegiatan warga biasa yang bukan wartawan professional mengumpulkan fakta di lapangan atas sebuah peristiwa, menyusun, menulis dan melaporkan hasil liputannya di media sosial Pada perkembangannya, tidak hanya semata-mata berita atau reportase saja yang ditulis melainkan termasuk opini-opini pribadi dalam menanggapi suatu peristiwa. Orang-orang merasa perlu untuk menceritakan apa saja termasuk hal-hal sederhana yang terjadi di sekitarnya melalui blog pribadi, akun jejaring pribadi, juga laman massal seperti Kompasiana dan lain-lain. 

            Kegiatan CJ ini adalah kegiatan yang sangat sederhana dimana tanpa sadar kita telah sangat sering melakukannya. Misalnya, ketika ada kecelakaan di dekat rumah kita kemudian kita memotret kejadian tersebut. Selanjutnya kita mengunggah foto tersebut dan memberikan informasi kejadian dengan konten 5 W + 1 H di akun pribadi kita atau membaginya ke sebuah situs media sosial, maka kegiatan tersebut sudah dapat disebut sebagai CJ.

Secara unik, fenomena CJ ini merefleksikan sejauh mana kepedulian atau partisipasi warga terhadap pembangunan atau perkembangan situasi di daerah. Yayasan Kampung Halaman atau dapat diakses di http://www.kampunghalaman.org/ , sebuah laman yang berisi berbagai inspirasi lewat video yang diproduksi banyak pemuda dari berbagai daerah yang bercerita tentang keunikan daerahnya, maka penulis yakin bahwa ide citizen journalism ini sangat bisa untuk dikembangkan lebih sistematis untuk mendukung kemajuan pembangunan masing-masing daerah.

Pegiat CJ masing-masing daerah akan melaporkan segala potensi daerah berdasarkan hasil riset atas local genious, memberikan berita harian tentang hal penting dan menarik yang terjadi di daerah serta memungkinkan siapa saja untuk memberikan gagasan bagi perkembangan daerahnya. Lama kelamaan, akan terjadi konsep kolaborasi yang terpadu dan berkelanjutan dari masing-masing dan antar daerah. Konsep local genious adalah tonggak utama bagi terwujudnya pembangunan berkelanjutan. 

(Sumber : www.therightangel.co)


Selama ini, kurikulum yang menawarkan muatan lokal sebagai pilihan mata pelajaran ternyata tidak cukup mampu untuk mengkampanyekan potensi lokal dalam mata pelajaran formal sehingga anak usia dini dan generasi muda menjadi sangat asing dengan daerahnya sendiri. Ketika nilai-nilai kearifan budaya yang dianggap tradisional ini dikemas dalam sebuah kampanye inovatif yang menarik bagi generasi muda lewat media sosial, maka penulis mengharapkan generasi muda akan tertarik untuk menjadi aktor utama dalam kampanye ini.

PENUTUP

Ada sebuah ungkapan yang membuat diri ini selalu optimis melihat masa depan bangsa ini, yaitu, “Jika satu orang dapat berbuat satu kebaikan, maka banyak orang dapat berbuat satu perubahan.” Ya, together we can make a change. Yang kita butuhkan hari ini adalah pemuda yang mau berlelah-lelah untuk memberikan kontribusi nyata. Bangsa ini adalah laboratorium untuk menguji sejauh mana kecintaan kita pada pertiwi, tempat kita selama ini menggantungkan kehidupan dan pengharapan. Semoga dengan jargon Think globally, Act Locally serta semangat untuk BERKOLABORASI , kita dapat membuat para bapak bangsa tersenyum bangga pada kita semua. Satu Nusa, Satu Bangsa, Hiduplah INDONESIA RAYA!!

* “Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari www.darwinsaleh.com. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan”.


Suara Kota: Youth Citizen Journalism Website Based on Local Culture, Research, and Community Development to Increase Public Prosperity in Indonesia



”… Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita belum selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat..”
(Bung Karno)

Background of Knowledge

Indonesia is well-known as a rich country with about 17.000 islands stretched from Sabang to Merauke. It has various local languages, local cultures, local art performances, local heritage even World level cultural products such as Batik that has been certified by UNESCO since 2009. From those assets we often imagined that Indonesian people will live in prosperity and got much insurance in many aspects such as education and health. But what we see today is the opposite of our expectation regarding to the role of country. From Bappenas (2012), we know that the number of poverty reached until 12.49 percents. Moreover, the number of children of elementary school that do not continue their study reached until 72.12 percents (Dikdas, 2001).

UU No. 22 Year 1999 and then revised by UU No. 32 Year 2004 about Otonomi Daerah proved us to maximize the potency of local region. Each region in Indonesia has responsibility to develop their land through all aspects such as politics, economics, culture etc. However, in fact, from the years since this rule has been implemented until now, the development in many cities does not run well, but even worse from day to day. This was caused by some factors. First, it is because of bad birocracy and corruption committed by the leader in some regions, like Sragen, Karanganyar, etc. Second, most of regions in Indonesia are not used to entrepreneurship habit yet. Most of them do the development using APBD without thinking more of how to effectively use their local potency. The effect is the development still stuck and the autonomy was not achieved as well. Third, the local people in the region have not had awareness yet about how to deal with development problem. Most of citizens think that country’s development should belong to government’s responsibility, neither for civil people.

Proposed Solution

From some problems mentioned above, the writer proposes solution after looking the effect of modernity nowadays. As we know, the globalization era makes people engaged to Information and Communication Technology. Everyday people frequently use social media like Facebook, Twitter, Weblog, etc. One of the phenomena that rise because of social media is citizen journalism. Citizen journalism is when private individuals do essentially what professional reporters do - report information. That information can take many forms, from a podcast editorial to a report about a city council meeting on a blog. It can include text, pictures, audio and video. But it is basically all about communicating information of some kind (Rogers, 2013).

Citizen journalism actually has many advantages instead of serve people’s actualization need. They are information sharing and also mass online discussion. From citizen journalism, sometimes we know that people do care about their surrounding environment and they want to make betterment for their region. Suara Kota is a citizen journalism website based on local culture, research, and community development. 

By using Suara Kota, people in a city could make a report, upload the videos of their local culture performances, etc. The effects could be different if they use personal blog/ website because Suara Kota is set to be systemic. One person can do one good thing, but together they can make a change. There are several steps for establishing Suara Kota. 


First, we need to initiate a youth conference. The purpose of conducting youth conference is to gather all youth from same region in order to formulate same vision. The value of this conference is how to make youth live, learn, and then back to Indonesia, especially to their city. Youth may learn anywhere they want; besides they should have big nationalism and sense belonging toward Indonesia and their city. If they have this ideology, the development in Indonesia will not be centered in capital city.

Second, what we have to do is to organize the crew. Later, our program will divide to three areas, which are journalism activity, research, and community development. Youth that gather in conference will choose to what area they will belong to, depend on their passion and their purpose. Each area will have their own crew but they coordinate each other.

Third, there is journalism activity. Actually, everyone in Indonesia even abroad can contribute to this activity if they fill the requirements. Because this is city’s project, so only news about city “A” that will be selected in Suara Kota “A” website. This is journalism activity based on local culture. So, not all news can be reported. For example, crime news is not match to this website. What we want is to promote Indonesia clearly, effectively, and completely, even until the smallest elements it has. By previewing Suara Kota, a city can take a lesson and support each other.

The status quo is even Bali or Solo as the cultural city in Indonesia, they do not have a website to specially promote their local culture. We often got difficulties when we want to search our local culture uniqueness from many regions in Indonesia. For example, maybe you know traditional food from Solo or Bali, but not all of you know the history of it, right? Unfortunately, we are often familiar about tourism bad news like the lack of good facilities in our tourism object. Since this is very important, Suara Kota should be established as soon as possible through citizen journalism activity. 

Fourth, based on the data we got from journalism activity, we can do research. One important element in doing research is needs analysis. By citizen’s reportage from Suara Kota, we can conduct a research about how to make betterment for our local heritage and local culture. The output of the research can be product and system. As mentioned above, there are teams for doing this research.

Fifth, as final project is community development. The results from the research can inspire us to make a community development activity. By community development, the traditional culture from each region can be performed annually to increase public prosperity. The writer sees that the government website is not active to give information that is needed by public. This idea of citizen journalism website is also born because of observational activity.

Furthermore, this idea cannot be applied well if there is no coordination between government, private sector, and of course citizen network. The government should give support of costs and legal policy. Private sector should give support of creative program   and Corporate Social Responsibility (CSR) based on local culture activity. The last but not least, the citizen is the most important agent to do this vision. If there is no awareness from citizen to develop their region, so this idea means nothing.

Conclusion and Recommendation

Suara Kota is an effective way to increase prosperity in Indonesia. Digital world phenomena nowadays should make us think creatively how technology gives us benefit, not just the bad effects. By using technology, we can share and be connected with each other, we can promote our local culture globally and we can educate citizen to be more aware about our country.

The challenge of this project is not all youth can stay in the city. They have to learn in other city and be restricted by time they had. But through the system of this project, everyone can take their part on distance project. By establishing Suara Kota, everyone in the world can watch how beautiful Indonesia is.

Finally, let us think once again: If one person can do a good thing, so together we can make a change. All people should take into account of Indonesian’s vision as mentioned in our UUD 1945, the fourth paragraph. Long life Indonesia!

Merebut Kembali Idealisme yang Terbiaskan



Realita bangsa yang begitu memprihatinkan hari ini nampaknya masih menunggu waktu yang sangat lama untuk menemui titik terang ke arah perubahan yang lebih baik.  Pasalnya, semua komponen yang menjadi organ penyusun tubuh negeri ini nampak sedang sakit. Birokrat dan penguasa yang korup, kapitalis yang licik dan rakus, aparat yang represif dan tidak bertanggungjawab, pendidik yang tidak berdedikasi, dan sebagainya. Yang nampak hanya rasa pesimis disana- sini seakan semua telah kehilangan harapan dan kepercayaan akan adanya masa depan yang manis di hari esok.

Dalam pelik fenomena itu sesungguhnya mahasiswa hanya sebagian kecil saja dari bangsa yang besar ini. Namun keberadaannya menjadi sangat berarti serta menjadi tumpuan harapan ketika kita mengingat peran, fungsi dan posisi mahasiswa yang sangat strategis dalam tatanan kehidupan masyarakat. Posisi strategis mahasiswa ini penulis maknai bukan hanya dari segi hakikat secara terminologi dan kondisi ideal saja, namun lebih lanjut kepada tanggungjawab moral serta konsekuensi logis yang diemban.

Secara ideal, sebagai insan akademis, mahasiswa memiliki konsekuensi untuk mengembangkan jiwa pembelajar sejati agar dapat terus mengembangkan diri sehingga menjadi generasi yang tangguh dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Jiwa pembelajar sejati akan memunculkan peran selanjutnya dengan mengikuti watak ilmu itu sendiri. 

Manusia yang telah tercerahkan oleh terang ilmu pengetahuan pada hakikatnya akan selalu resah serta cenderung pada kebenaran sebab sukmanya selalu mendorong untuk menyelesaikan kezaliman- kezaliman penguasa yang belum tuntas diselesaikan. Manusia berilmu itu selayaknya sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan bidang yang ditekuni dan dipahaminya, baik secara teoritis maupun teknis. Hal ini dapat dicerminkan pada sikap peka dan peduli pada realita- realita sosial dan perilaku tidak merugikan baik bagi dirinya dan lingkungan sekitar.

Namun, Realita yang ada nampaknya masih jauh dari idealisme yang kita miliki. Peran, fungsi, dan posisi yang semestinya terwujud nyata dalam kemahasiswaan kita masih hanya terbatas kata dan belum mengejawantah dalam wujud perilaku keseharian. Dunia kampus kini justru akrab dengan sikap apatis, individualis, pragmatis, serta yang paling tidak terelakkan yakni hedonisme yang secara nyata tercermin dalam kultur intelektualitas, moralitas, dan produktifitas yang melemah. Terlepas dari pengaruh eksternal yang mempengaruhi kondisi kemahasiswaan kita, kita menyadari bahwa akar semua permasalahan itu ada di subjek utamanya yaitu mental mahasiswa itu sendiri. Seperti ungkapan “educate brain, educate mind, without educate the heart is blind”. Semua itu berawal dari ketidaksadaran kita terhadap peran, fungsi, dan posisi kita sebagai mahasiswa.

Kali ini, penulis akan mencoba menguraikan materi Orientasi Studi Kehidupan Mahasiswa (OSKM) ITB yang menurut penulis sangat bagus untuk diterapkan di kampus- kampus lainnya. Materi tersebut menjelaskan mulai dari memahami esensi hidup, pembentukan paradigma manusia pembelajar, penyadaran kembali tiga potensi dasar manusia, integritas, realita bangsa, posisi peran dan fungsi mahasiswa, dan berujung pada semangat kontribusi yang harus dimiliki oleh masing- masing pribadi, utamanya mahasiswa sebagai tonggak perubahan bangsa.

Mahasiswa kita perlu disadarkan kembali akan esensi mereka hidup di dunia ini. Sebab, kesadaran akan esensi hidup adalah awal dari pembelajaran yang sesungguhnya bagi seorang manusia. Kesadaran akan makna dan hakikat hidup merupakan akar dan sebab bagi kesadaran- kesadaran yang lain. Juga awal dari pembangunan paradigma sebagai manusia pembelajar. Hidup yang sejati adalah hidup yang dijalani dengan sungguh- sungguh dan sempurna, yang didalamnya manusia dapat mewujudkan dirinya dengan mengembangkan kecakapan- kecakapan dan memenuhi keperluannya. Manusia yang hidup berarti dan berharga ialah dia yang merasakan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kegiatan- kegiatan yang membawa perubahan kearah kemajuan- kemajuan baik yang mengenai alam maupun masyarakat yaitu hidup berjuang dalam arti yang seluas- luasnya (Al- Ankabut (29) :6). 

Namun seringkali manusia kehilangan hal tersebut disebabkan kehidupan yang sangat materialis. Manusia berubah menjadi robot-robot rutinitas yang menyebabkan manusia kehilangan makna. Hidupnya mengalir dan berputar seperti mesin pabrik. Hal tersebut penulis analisa disebabkan pula oleh sistem pendidikan yang mekanistik dan dikebiri sekedar hapalan rumus dan ujian yang bersifat formalitas belaka. Ironis, tanpa kita sadari, sistem yang kita buat sendiri justru menyebabkan hilangnya potensi manusia sehingga berujung hilangnya semangat kontribusi itu sendiri.

Jika kita menengok sejenak pada Tri Dharma Perguruan Tinggi maka kita akan sampai pada hakikat kemanusiaan mahasiswa. Kita akan mendapati tiga tujuan luhur Perguruan Tinggi yang terdiri dari Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengngabdian Masyarakat. Tiga tujuan yang telah terangkum ini sebenarnya memiliki makna yang dalam bahwa menjadi kaum elite akademis sebenarnya adalah kembali menjadi bagian dari masyarakat. Bagaimanapun kita harus menyadari bahwa kita adalah satu kesatuan dalam sebuah entitas kehidupan, tidak memisahkan diri dari mereka yang seringkali dianggap berada di luar lingkaran.

Bukti- bukti bahwa mahasiswa kita seringkali melupakan kedudukannya sebagai bagian dari masyarakat adalah era pragmatis yang saat ini kita hadapi. Misalnya adalah pada pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa. Kucuran dana dari Kementrian Pendidikan Nasional yang jumlahnya mencapai angka triliun pertahun bahkan menjadi pengeluaran terbesar tiap tahunnya itu terlihat hanya Nampak sebagai pemborosan anggaran belaka tanpa goal- setting yang pasti. Program- program tersebut sebagian besar tidak banyak membawa dampak yang signifikan bagi masyarakat dikarenakan terhenti di tengah jalan. Banyak yang dikerjakan hamper tanpa dedikasi yang disertai ketulusan untuk mengabdi. Paradigma matrealis dan pragmatis telah melekat pada jiwa- jiwa mahasiswa yang berorientasi pada pendanaan yang mencapai 10 juta rupiah per judul tersebut.

Masalahnya disini adalah bukan pada program- program yang ditelurkan. Melainkan pada mental mengabdi itu sendiri. Jika kesemuanya dari para pemegang kekuasaan masih berorientasi pada prokeristik tahunan semata, maka sampai kapanpun bangsa ini tidak akan berubah.

Paparan yang penulis sampaikan berujung pada sebuah harapan yakni munculnya laboratorium- laboratorium baru untuk mahasiswa kita merebut idealisme yang sementara ini terbiaskan karena beberapa nilai yang tidak sesuai untuk diinternalisasikan di republik kaya raya ini. Jika mahasiswa Fakultas MIPA memiliki laboratorium riil untuk mereka bermain- main dengan larutan dan tabung reaksi, maka bagaimana dengan mahasiswa dari disiplin ilmu yang lainnya? Selama ini mereka telah cukup disibukkan dengan diktat dan teori. Mereka butuh laboratorium untuk menguji ilmu yang telah mereka serap sehingga ketika lulus kita tidak lagi miris dengan pemandangan antrian jutaan mahasiswa di Job Fair atau pameran- pameran pekerjaan yang juga dijual seharga tiket masuknya.

Mahasiswa kita butuh laboratorium riil untuk mereka membayar hutang janji tri dharma paling tinggi yakni pengabdian terhadap masyarakat tanpa orientasi apapun. Sudah saatnya mahasiswa Fakultas Keguruan turun untuk mendesain kurikulum sendiri di pelosok- pelosok kampung pinggiran, mengajar anak- anak dengan penuh suka cita, menyaksikan mereka berprestasi tanpa tendensi sekedar sepuluh juta. Sudah saatnya mahasiswa Fakultas Kedokteran mencari peluang untuk menyelesaikan persoalan gizi buruk juga mengatasi kasus masyarakat yang tak memiliki dana untuk berobat. Sudah saatnya mahasiswa Hukum turun ke masyarakat mencoba mengamati regulasi- regulasi yang selama ini meresahkan. Serta para mahasiswa Fakultas Ekonomi yang sangat dinantikan masyarakat untuk menjawab persoalan kemiskinan karena setiap harinya kita digerus pasar bebas globalisasi.

Laboratorium- laboratorium itu hendaknya lahir dari pemikiran mahasiswa sendiri sebagai akibat dari keresahan mereka melihat ketidakadilan di sekitar mereka. Itulah yang penulis sebut dengan perebutan kembali idealisme yang terbiaskan. Terbiaskan oleh nilai pembenaran nisbi, kapital dan serangan mental melalui media virtual. Negeri ini tak butuh lagi para manusia banyak bicara, tapi miskin kontribusi. Begitupula tidak kita butuhkan lagi para manusia yang sekedar banyak bertindak namun sedikit sekali untuk berfikir. Sebab mahasiswa adalah asset mahal yang dimiliki bangsa ini. Kembalilah!