Jumat, 02 Maret 2012

melamun Jilid 1


Karakter

Tidak berbeda dari hari-hariku biasanya, di sela- sela waktuku sambil menatap plafon kamar kosku yang jarang rapi,aku melamun. Biasanya lamunanku adalah lamunan intelektual, *ecieh. Tapi lebih seringnya, lamunan mabuk cinta. Hahaha
Kita bangsa yang besar, ya besar tanah airnya, besar penduduknya, Besar kekayaan budayanya, besar mimpi- mimpinya. Bener-bener besar. Tapi yang kecil dan memalukan, ternyata lebih banyak. Tulisanku keseringan pesimis ya? Ah, biarlah, tapi seberapa besar pesimis yang kau tangkap, sejujurnya sebesar itu pulalah cinta yang kutanam pada negeri ini. Negeri yang telah mengenalkanku pada kesederhanaan dan ketentraman, ya mungkin itu saja, setidaknya negeri yang cukup dirasa aman untuk anak- anakku kelak mendapatkan pola perkembangan yang semestinya. Tapi aku masih resah. Beberapa kali orang berkata padaku, “asal realistis aja sih, Lis”. Haa nampaknya sikap dan argument yang kutawarkan terlihat terlalu defense.
Ini hasil lamunanku :
Coorporate (Bukan) Pahlawan
Kampus Universitas Sebelas Maret Surakarta pekan ini kedatangan tamu penting, yakni Menteri Koperasi dan UKM, Syariffudin Hasan. Beliau datang untuk membuka acara First UNS’s Small Medium Enterprises Awards yang digelar di Auditorium UNS pada 17- 19 Februari 2012. UNS memberikan penghargaan kepada daerah, korporasi, universitas, maupun komunitas yang telah berhasil mendukung geliat pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di daerahnya. Acara ini diikuti oleh 45 Peserta yang disebut- sebut sebagai pegiat atau pihak- pihak yang berjasa untuk pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Negara ini.
Fakta menarik selain Pak Menteri yang mampir makan nasi pecel di KOPMA pun tersirat dari acara rangkaian Dies Natalis UNS ini. Kelompok usaha peserta pameran berasal dari binaan coorporate (perusahaan besar) juga kelompok- kelompok mandiri yang kebanyakan belum mampu berkontribusi untuk peningkatan kualitas kehidupan para pelaku usahanya. Adalah salah satu coorporate yang telah membina beberapa usaha masyarakat sehingga menghasilkan produk khas daerah berupa makanan ringan, camilan, tas- tas ramah lingkungan, juga kaos yang desainnya memberikan identitas pada daerah tempat perusahaan raksasa tersebut berdiri. Perusahaan tersebut bahkan dinobatkan sebagai perusahaan pengembang UMKM terbaik karena dedikasi dan kepeduliannya terhadap kehidupan masyarakat.
Fakta lain, penulis juga mendengar cerita dari salah satu kelompok usaha yang menghasilkan produk- produk kerajinan atau souvenir dari batik bahwa produk mereka selama ini lebih banyak diminta oleh salah satu merk batik terkenal di negeri ini. Artinya, mereka memproduksi kerajinan- kerajinan tersebut kemudian menjualnya dengan harga murah kepada perusahaan batik raksasa tersebut. Namun, di tangan perusahaan raksasa itu barang mereka dapat dijual kembali dengan harga jual yang mencengangkan hanya karena masalah pelabelan. Ketika ditanya, apakah para pengrajin tersebut tidak sakit hati dengan ketimpangan harga jual, mereka hanya menjawab dengan dalih tetap senang karena dengan seperti itu kerajinan mereka dapat terjual lebih cepat dan mendapat pesanan dalam jumlah cukup besar walaupun akhirnya dilabeli merk perusahaan lain.
Dari dua contoh diatas setidaknya ada beberapa bahasan yang dapat didiskusikan. Pertama, ekonomi kerakyatan kita masih dijadikan alat oleh para coorporate. Bagaimanapun baiknya sebuah perusahaan besar, mereka tetaplah si pemilik modal yang berorientasi pada profit. Usaha- usaha yang mereka lakukan adalah baik namun bukan merupakan sebuah kebaikan. Artinya, jika mereka tidak melakukan itu justru adalah buruk. Hal baik itu memang wajib mereka lakukan sebagai kompensasi terampasnya sebagian hak- hak masyarakat, lebih ekstrim lagi atas eksploitasi Sumber Daya Alam. Lebih- lebih lagi jika mereka adalah perusahaan Internasional yang melanggengkan praktek perburuhan.
Kita juga bukan tidak tahu bahwa dibalik kegiatan- kegiatan CSR itu merekapun mendapatkan keuntungan lagi yakni nama perusahaan yang semakin meroket. Contoh saja, kita tentu ingat betul salah satu merek air mineral yang perusahaan induknya berasal dari luar negeri mengiklankan bahwa 1 liter air yang kita beli akan berimbas pada masyarakat bagian timur Indonesia yang belum dapat mengakses air bersih. Dari pekerjaan ini kemudian mereka mengaku sebagai social entrepreneur dan merasa telah lepas tanggung jawab atas eksploitasi air tanah pada daerah pegunungan yang memiliki potensi pertanian organik luar biasa. Hal tersebut lagi- lagi akan memberikan profit atas semakin baiknya label mereka di masyarakat. Maka, inikah yang dinamakan mengggerakkan geliat ekonomi kerakyatan? Coorporate bukanlah pahlawan.
Disisi lain, menyoal tentang pelabelan industri- industri mikro seperti pada kasus kedua sebenarnya kita hanya butuh keberanian saja. Adalah miris apabila kita melihat masyarakat dengan ide- ide kreatif, bakat dan keterampilannya dalam menciptakan produk mereka yang laku keras di pasaran tetapi kehidupan mereka tidak mengalami perkembangan yang signifikan secara ekonomi dikarenakan ilmu mereka dibeli dengan harga yang murah oleh kaum- kaum kapitalis. Akar persoalan mengapa produk UMKM tidak berhasil bersaing dengan produk industri besar rata- rata hanya pada masalah merek. Merek adalah hal yang sangat penting bagi produk jasa maupun barang. Merek bisa menarik minat konsumen untuk memakai produk tersebut. Merek memang diciptakan agar mudah diingat orang karena berpengaruh pada persepsi.
Adapun yang merupakan pahlawan sebenarnya bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan, menurut penulis, tidak lain adalah warga masyarakat sendiri bersama para perangkat pemerintahan dan pemuda. Selama ini pemuda baik yang berpendidikan rendah maupun sarjana secara tidak sadar selalu meninggalkan daerah kelahirannya untuk berburu kerja di daerah lain atau kota. Ketika pola pemuda yang mendedikasikan diri untuk menjadi calon- calon buruh ini masih dilanggengkan maka selamanya coorporate akan dianggap sebagai pahlawan karena memberi mereka penghidupan berupa gaji. Analogi ini sama dengan mahasiswa yang tidak berani menyebut rokok itu buruk karena mereka masih menerima beasiswa pendidikan dari perusahaan rokok. Namun, paradigma ini bukan tidak mungkin untuk diubah. Kehidupan warga masyarakat bersama potensi lokalnya masih dapat diselamatkan.
Langkah utama yang dapat ditempuh barangkali adalah revitalisasi kegiatan kepemudaan di kampung- kampung, yang selama ini dikenal dengan sebutan karang taruna. Edukasi pemuda di karang taruna harus menyesuaikan kebutuhan masa kini dan masa depan. Ada baiknya karang taruna bukan sekedar sebagai forum silaturahmi dan kepanitiaan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda saja. Namun lebih dari itu, hendaknya para pemuda melakukan kajian- kajian keilmuan, diskusi tentang potensi daerah serta membangun persepsi yang sama dalam mencintai kampung halamannya sehingga kelak mereka memiliki tekad yang kuat untuk mengembangkan keunggulan lokal. Pemuda- pemuda yang memiliki pendidikan lebih baik dapat menjadi motor gerakan tersebut.
Sejatinya, model OVOP (One Village One Product) yang digaungkan Pemerintah sejak setahun yang lalu sangat bagus untuk diduplikasi. Hal ini disebabkan daya yang dimiliki Pemerintah tidak cukup kuat untuk mengatasi jumlah UMKM yang mencapai 55,2 juta sehingga masyarakat perlu menduplikasi sistemnya secara mandiri. Input dari program OVOP antara lain adalah penyerapan SDM competence, penyediaan bahan baku (local resources base), dan permodalan yang berasal dari KSP/USP serta banking. Dalam prosesnya OVOP bertumpu pada produk unggulan daerah yang didukung oleh kelembagaan dan jaringan usaha, teknologi pengolahan, packing product (kemasan), serta brand product. Output dari OVOP adalah terciptanya pemasaran baik dalam wilayah lokal, nasional bahkan internasional. Pada duplikasi sistem yang diinisiasi oleh masyarakat secara mandiri, maka peran berbagai elemen pendukung tersebut diatas selayaknya digantikan oleh komunitas pemuda sebagai para pendamping terdidik.
Peran dari seluruh elemen masyarakat lokal akan membawa dampak baik bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan karena mereka memiliki visi dan niat yang sama frekuensinya dalam membangun keunggulan lokal. Melalui spirit ini, Indonesia dapat kembali hijau karena sawah yang menghampar tetap lestari, begitupun samudera yang luas tetap menjadi komoditi di tangan para pemuda yang memperjuangkan potensi lokal sebagai sumber kekuatan bangsa ini. Hidup Ekonomi Kerakyatan!
Itu versi lamunan NORMATIF! Tulisan selanjutnya, mungkin akan lebih normative lagi. Tapi nampaknya, negeri ini memang terlalu akrab dengan segala sesuatu yang normatif.