Selasa, 25 Maret 2014

Menyemai Pendidikan Spiritualisme Kritis



Esai ini saya tulis untuk menanggapi esai berjudul “Anak Muda dan Problem Pendidikan Kita” yang ditulis oleh Anwar Noeris di Harian Jogja (14/3/2014). Esai itu bermaksud menanggapi kasus pembunuhan Ade Sara Angelina (19), seorang mahasiswa Universitas Budi Mulia oleh Hafiz (19) dan pacarnya Assyifa (19) yang sempat menggegerkan publik pekan lalu. Menurut Anwar, kasus tersebut  membuktikan kegagalan sistem pendidikan kita.
Nilai-nilai pendidikan yang didapat pelaku, seolah tidak berkesan apa-apa terhadap dunia riilnya. Anwar kemudian menduga bahwa hal ini disebabkan karena sistem pendidikan di Indonesia telah terpengaruh oleh sistem pendidikan sekuler modern yang melahirkan jiwa-jiwa sekuler, pikiran-pikiran yang berbasis kesenangan semata dan berfoya-foya. Bagi Anwar, solusi yang paling tepat untuk mengatasi “pengaruh buruk” tersebut adalah  sistem pendidikan islam, yang konsentrasinya adalah pembentukan nilai-nilai kepribadian yang agamis.
Saya pribadi memakai kacamata lain dalam melihat kasus pembunuhan berencana diatas, yakni kita tak dapat langsung menujukan kesalahan pada pendidikan formal yang gagal. Saya lebih senang menyoroti teori perkembangan kognitif yang dicetuskan oleh Pakar Psikologi Jean Piaget (1896-1980) dalam buku Life Span Development. Menurut teori tersebut, tersangka pembunuhan yang berusia 19 tahun dapat dikategorikan ke dalam tahap operasional formal. Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif yang mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai.
Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini menandai masuknya anak ke dunia dewasa baik secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Namun faktanya, tidak semua anak berhasil melalui fase ini dengan sempurna. Konteks sosial yang merupakan salah satu sudut pandang dari perkembangan kognitif menyatakan bahwa lingkungan sosial dan budaya akan memberikan pengaruh terbesar terhadap pembentukan kognisi dan pemikiran anak. Seperti kita ketahui, di era keterbukaan informasi hari ini, anak-anak banyak sekali mendapat input yang berasal dari sumber yang tak terbatas melalui beberapa klik saja serta banyak citra yang ditangkapnya lewat berbagai tontonan.
Selanjutnya, solusi yang ditawarkan Anwar juga sangat utopis sekaligus hanya kembali pada “status quo” mengingat sistem pendidikan nasional kita sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 20 tahun 2003 sebenarnya sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam. Sebagaimana kita tahu, pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jelas, tak ada yang salah dengan desain sistem pendidikan kita.
Nilai sekuler modern yang diduga melahirkan sikap-sikap negatif ini justru akan mengalami logika terbalik jika dihadapkan dengan solusi berupa agama monotheis (islam). Hal yang paling utama dari kesadaran modern sesungguhnya adalah kemampuan berpikir kritis. Buah rasio adalah buah yang paling patut disyukuri dalam gejala modernitas yang merupakan sebuah keniscayaan hari ini.
Namun, ketika rasionalitas berkembang, banyak orang yang justru mencurigai agama-agama monotheis. Kesalahan kaum sekularis yang menolak kehadiran agama adalah justru membiarkan agama jatuh ke tangan kaum fundamentalis. Akibatnya, hari ini yang kita lihat adalah gap yang lebar antara kaum sekuler dengan kaum fundamental yang sebenarnya tidak sedang benar-benar memperjuangkan kebenaran universal, melainkan membela sisi egosentrisme masing-masing.
Spiritualisme kritis, istilah yang dipopulerkan oleh Ayu Utami membawa sebuah ide agar kita tidak latah menghadapi modernisme. Kita memang butuh merebut kembali agama-agama monotheis untuk menafsirkannya kembali dengan lebih terbuka.
Hal ini bertepatan dengan momen uji coba Kurikulum 2013 yang memperbanyak porsi bagi pelajaran Agama dan juga Pendidikan Kewarganegaraan sebagai klaim pembentukan karakter bagi anak. Alih-alih membentuk karakter, dua pelajaran yang bersifat dogmatis tersebut justru dapat memicu timbulnya generasi pro kekerasan dan anti toleransi jika tidak diajarkan secara progresif. Disinilah pentingnya menyemai pendidikan spiritualisme kritis. Yakni sebuah upaya untuk membumikan kembali nilai-nilai kebenaran universal dalam bahasa yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari dan fitrah alamiah.

Selasa, 18 Maret 2014

Tentang Menulis : Mentafakkuri Jalanan Sunyi




Pagi ini, saya kelewat senang karena tiba-tiba ada sebuah chat dari mas Hendi Jo, penjaga gawang redaksi islindo (www.islamindonesia.co.id). Kata mas Hendi : Kalis, tulisanmu bagus. Boleh minta nomormu? nanti aku telpon. Oh well, hati saya langsung melayang ke langit tingkat ketuju, bibir saya senyum lima senti ke kiri dan ke kanan, tapi juga sekaligus terharu. Ada tetes air meluncur dari sudut kelopak mataku. Kebiasaan, saya suka berlebihan kalau mendapat pujian dari redaktur media atau penerbit tertentu.

Mengapa?

Bagi saya, pekerjaan menulis adalah pekerjaan mentafakkuri jalan sunyi. Dari berbagai pelatihan yang saya kebetulan diundang untuk mengisi acaranya, kebanyakan pertanyaan yang diajukan oleh peserta adalah :

1)      Mbak Kal, bagaimana sih agar tulisan kita bisa dimuat di media?
2)      Mbak Kal, bagaimana sih caranya agar bisa menulis bagus?
3)      Mbak Kal, bagaimana sih caranya membagi waktu antara kuliah, membaca dan menulis juga aktifitas keorganisasian yang lain?

Untuk pertanyaan yang terakhir, biasanya langsung saya buang ke keranjang sampah. Saya sampaikan kalau ini acara pelatihan menulis, bukan acara pelatihan manajemen hidup. Yap, kita beralasan tidak punya waktu untuk menulis, berkelit kekurangan waktu untuk membaca dan lain-lain pemakluman yang lain, tapi kenyataannya, kita tak pernah kekurangan waktu untuk bermain gadget, hang out tanpa hikmah dan tidur.

Catat : Saya bukan orang yang rajin-rajin amat, bahkan saya cenderung punya waktu yang berlebihan untuk tidur . Heuheuheu

Tentang pertanyaan bagaimana nomor satu dan nomor dua, jawaban saya hanya satu : Membaca dan Menulis adalah menulis itu sendiri. Saat saya sedang membuat catatan ini, menulis ya sama dengan menulis itu sendiri. Saya dengan sadar dan mentally active sedang mengetik gagasan-gagasan yang berlompatan di pikiran saya.

Saya tidak percaya dengan pelatihan-pelatihan dengan format “menulis bahagia” dan semacamnya. Pelatihan-pelatihan menulis yang saya ikuti dan berkesan bagi saya, kebanyakan justru “tidak membuat saya bahagia” karena biayanya mahal, memberikan saya banyak tugas yang implementatif tanpa banyak omong dan pulangnya saya dibikin resah tak tenang.

Setelahnya, tidak ada resep lain untuk bisa menulis selain membaca. Lho, lalu bagaimana dengan teknik? Lalu, bagaimana dengan proses kreatif itu sendiri? Ya, tetap saja jawabannya adalah membaca!

Proses membaca yang dilakukan oleh seorang penulis berbeda dengan proses membaca yang dilakukan “orang biasa”. Seorang penulis yang membaca akan berpikir, menganalisis, dan mengkritisi jika mampu.

Ketika membaca novel, seorang calon penulis novel akan memperhatikan baik-baik bagaimana teknik penceritaan pengarang, bagaimana ia menggarap setting, bagaimana ia membangun karakter, bagaimana ia memainkan alur dan plot.

Ketika membaca esai atau feature, seorang calon esais akan memperhatikan bagaimana gagasan itu dibangun, bagaimana antar paragraph koheren, bagaimana simpulan dan ide itu diwacanakan, motif apa yang ada dibaliknya (argumentative, persuasive, dan lain-lain)

Dari proses membaca yang semakin banyak, maka akan terjadi proses seleksi. Maksudnya, kita akan cenderung pada beberapa penulis yang kita anggap mengakomodasi kebutuhan kita akan suatu tulisan yang informative dan estetis menurut selera pribadi kita. Jika saya senang membaca Koran Kompas, maka kemudian saya mencintai tulisan-tulisan Bre Redhana, Sindhunata, maupun Yasraf Amir Piliang. Dari kecenderungan itu, saya akan melacak lebih jauh artikel-artikel yang mereka tulis dan menduplikasi cara mereka bertutur dan berwacana. Begitu yang saya maksud.

Hampir seluruh proses itu jauh dari hingar bingar dunia yang menyenangkan. Seseorang akan “tersiksa” ketika membaca. Ia tidak sempat mikir apakah dirinya akan tenar atau tidak, yang ada ia akan dihantui konsekuensi logis dari jiwa yang berpikir : keresahan dan keinginan untuk bersikap. Seseorang akan “tersiksa” ketika menulis. Bagaimana agar gagasan itu bersifat universal, dapat diterima dan yang paling penting : mencerahkan umat.

Pertanyaan semacam : Bagaimana agar tulisan kita dimuat , menurut saya lumayan menjijikkan. Saya lebih suka pertanyaan : Bagaimana agar kita dapat menulis yang bagus dan mencerahkan.

Tak banyak calon penulis yang tahu bahwa semua penulis pasti lebih banyak mempunyai karya yang tertolak daripada karya yang dimuat. Setelahnya penulis akan lebih giat belajar, merevisi dan menulis lagi dengan lebih “gila”.

Saya jadi ingat Film "Gie" yang saat itu dikritik bahwa tokoh Gie yang dimainkan oleh Nicholas Saputra terkesan terlalu banyak merenung-renung. Buat saya, ya memang seperti itu pengalaman yang akan kita rasakan. Toh nyatanya Gie tak hanya merenung-renung. Untuk dapat menulis, ia mengamati gejala, ia berdiplomasi dengan banyak pihak, ia berpartisipasi dalam aktivitas dan sikap politik. Penulis adalah ideolog yang sudah pasti harus memiliki sikap (keberpihakan) tertentu.

Menulis adalah ikhtiar untuk memelihara akal sehat. Menulis adalah perjuangan dakwah bil kalam. Kita hanya menempuh jalan sunyi, mendapati tak ada sesuatupun yang kita dapatkan selain jiwa yang puas karena telah melaksanakan fitrah untuk terus merasai dan memaknai.



Selamat menulis!

Senin, 17 Maret 2014

Siapa yang sekuler?



Kurikulum 2013 telah diuji coba. Kurikulum yang lahir dari kekhawatiran Pemerintah yang menganggap dekadensi moral generasi muda sudah semakin mencapai titik kritis ini menerjemahkannya ke dalam desain kurikulum baru. Hal-hal baru tersebut, terutama perbedaan mencolok di tingkat pendidikan dasar antara lain  menghapus mata pelajaran Bahasa Inggris (sebagai klaim pembentukan nasionalisme yang lebih kokoh), menghapus mata pelajaran IPA (diusahakan untuk mengajarkannya secara tematik integratif) serta menambah porsi untuk mata pelajaran agama, PKN, penjaskes dan kesenian, dengan harapan dapat menjadi pondasi bagi pendidikan karakter anak.

Kita boleh memandang optimis pembentukan karakter melalui mapel-mapel tersebut, hanya jika guru (pengajar) dan instrumen mengajar tidak membuat anak bagaikan kerbau tanpa boleh berpikir dan menginterupsi. Pelajaran-pelajaran diatas memicu peluang tersampaikannya ilmu atau nilai-nilai moral secara dogmatis. Alih-alih mengajarkan karakter, yang terbentuk justru generasi yang tidak terbiasa berpikir kritis hingga muncullah generasi pro-kekerasan karena tak terbiasa menerima perbedaan dalam kehidupan sehari-hari . 

Saya ingin mengingat masa kecil dimana saya pertama kali diperkenalkan kepada islam. Sejak saya mengenal kata “agama” , saya dipahamkan bahwa islam adalah agama saya. Saya menerima hal tersebut sebagai sebuah warisan mutlak tanpa menyadari bahwa perkara beragama seharusnya dipilih berdasarkan kesadaran iluminatif yang membawa konsekuensi logis pada diri kita untuk melaksanakan semua kewajiban lain semata-mata hanya untuk Tuhan. Kemudian kira-kira pada usia 5 tahun, saya pergi ke Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) untuk belajar membaca Al Qur’an dan berlanjut ke Pondok Pesantren untuk belajar Fikih, Tauhid, Akhlak, Nahwu, Shorof dan lain-lain. Beruntungnya, pengalaman-pengalaman di Pondok Pesantren memicu saya untuk terus belajar dan menambah referensi.

Sejak kecil kita cenderung menerima agama sebagai dogma lewat metode yang sama sekali tidak memberikan kita kebebasan berpikir. Akibatnya, hingga dewasa, orang-orang menjadi takut untuk belajar agama secara mandiri bahkan malas mencari tahu sendiri walaupun untuk hal-hal kecil. Ulama atau lebih sering disebut ustadz menjadi orang yang sangat “suci”. Mereka yang menolak sekulerisme sebenarnya seringkali paradoks sebab justru memisahkan hal-hal duniawi dengan mengkultuskan peran ustadz atau ulama. Tak heran jika akhir-akhir ini banyak kasus berkenaan dengan kekecewaan umat kepada ustadz-ustadz selebritis di televisi. Padahal, dalam islam, hakikat penciptaan manusia tercantum dalam Q.S Al Baqoroh:30 bahwa manusia terlahir untuk menjadi pemimpin. Umat harus sadar tentang persamaan manusia dalam tanggung jawab mencari ilmu dalam upaya pencapaian kemandirian berpikir.

Di usia mahasiswa, bahkan dalam hidup bermasyarakat sekarang ini, saya memiliki banyak jenis kawan. Dalam masalah jilbab misalnya, ada yang mempertanyakan mengapa mereka harus berjilbab. Sedang disisi lain, bagi yang telah berjilbab (sesuai kategori syar’i mereka) pun gemar mengutarakan pandangan-pandangannya. Diskursus semacam ini sebenarnya terlambat untuk diperbincangkan pada fase perkembangan usia saya, harusnya kita dapat memperbincangkan hal-hal yang lebih strategis untuk kebermanfaatan umat, namun hal ini juga bukan masalah selama terjadi dialektika yang sehat sesuai kaidah-kaidah dakwah yang tercantum pada surat An Nahl : 125. 

Alangkah lebih eloknya apabila generasi muslim/ muslimat dapat mengejar ketertinggalannya serta segera berbenah maju. Pada Negara-negara sekuler, mereka dapat cenderung lebih maju sebab persoalan-persoalan menyangkut akidah dan agama, bagi mereka kurang strategis untuk dibicarakan di tataran publik. Di Indonesia, islam sebagai agama mayoritas jelas harus memiliki corak dan formulasi khusus agar islam dapat benar-benar menjadi agama rahmatan lil alamiin.

Kita tentu tidak ingin bertanya-tanya, bahwa di Negara yang sekuler dengan penemuan-penemuannya yang berguna bagi peradaban hari ini, apakah justru mereka lebih membawa keimanan pada tahap kesadaran dan orientasi mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari? Sedang kita disini sebagai mayoritas, isu agama atau islam yang kita dengar sehari-harinya adalah isu kekerasan, perbedaan antar fikrah yang menunjukkan bahwa kita masih sama-sama belajar, dan tak satupun tentang islam yang memanifestasi dalam kemajuan peradaban? Mana yang lebih sekuler?

Jumat, 07 Maret 2014

Persepsi Miskin dan Kaya

Saya mendapat cerita menarik, ceritanya saya tulis di bawah ini. Tapi sebelum menceritakanya, saya jadi teringat masa kecil saya. Hampir sama seperti apa yang disampaikan tokoh "sang anak". Masa kecil dahulu, rumah saya beralaskan tanah. Gentengnya lubang-lubang yang suka bocor, apalagi jika hujan badai. Dindingnya dari kayu mahoni yang keropos, yang bisa diintip orang dari luar. Hiasan? Ah, barangkali hanya kalender gambar artis yang dapat dari partai politik atau pegadaian hihihi. Saya memang merasa kekurangan saat itu, tapi saya tidak pernah merasa sedih yang berlebihan. Kenapa?

Ketika kecil, selepas maghrib saya harus mengaji ke Pondok Pesantren dengan mengayuh sepeda. Jaraknya mungkin sekitar 5 kilometer dari rumah. Setiap hari saya seperti itu. Saya ingat betul, dahulu setiap hari saya melewati sebuah rumah di Jalan Arumdalu. Menurut saya, rumah itu bagus sekali. Rumah itu bukan rumah paling besar, tapi rumah itu tetap saja paling bagus menurut saya. Halamannya luas. Ada 3 pohon mangga dan banyak bunga-bunga di halamannya. Ada sebentuk saung juga, yang saya bayangkan setiap pagi ketika embun paling cantik sedang hinggap pada daun-daun, saya sudah akan bangun dan membaca buku sendiri menikmati pagi disana. Loh, itu kan bukan rumah saya? Iya, tapi saya selalu membayangkan bahwa itu rumah saya. Cat dasarnya warna putih. Ada juga dua ayunan yang dicat merah muda dan biru laut di tengah taman bunga.

Setiap hari ketika berangkat mengaji, saya melewati rumah itu. Setiap hari, saya merasa memiliki rumah itu. Setiap malam, saya membawa mimpi-mimpi saya ke rumah itu. Esoknya saya akan merasa bahagia jika malamnya saya bermimpi bermain di rumah itu. Saya merasa cukup, saya tidak bersedih karena ternyata itu bukan rumah saya. Sampai sekarang, rumah saya tetap seperti dulu, hanya sudah tidak bocor dan tidak becek lagi....

Oh iya, ini kisah yang saya ingin bagikan :

Alkisah, seorang ayah yang kaya raya mengajak anak lelakinya dalam sebuah perjalanan, dengan maksud untuk memperlihatkan kepada buah hatinya itu kehidupan orang miskin.
Mereka menginap di sebuah rumah pertanian milik sebuah keluarga yang dapat dianggap sangat miskin.
Dalam perjalanan pulang, sang ayah bertanya, “Bagaimana kesanmu, Nak?”

“Aku sangat senang, Ayah,” jawab si anak.
“Apakah kini kau tahu bagaimana kehidupan orang miskin?” tanya sang ayah lagi.
“Tentu saja,” sang anak kembali menjawab yakin.

“Kalau begitu, ceritakan pada ayah apa saja yang kau pelajari dari perjalanan ini,” pinta si ayah.
Putranya menyahut: “Kulihat kita hanya punya seekor anjing, mereka punya empat. Kita punya kolam renang yang merentang hingga di tengah taman, mereka punya sungai tak bertepi. Kita mengimpor lampu taman, tapi mereka punya ribuan bintang di langit saat malam.
 “Teras kita sepanjang halaman depan, dan mereka punya seluruh cakrawala. Kita tinggal di tanah yang Cuma sejengkal, sedangkan mereka memiliki padang tak terbatas, bahkan hingga sejauh kita memandang.
“Kita membeli makanan, mereka menumbuhkan sendiri makanan mereka. Kita membangun pagar tembok di sekeliling rumah sebagai pengaman, mereka punya teman-teman yang melindungi.”
Sang ayah terdiam tak mampu berkata-kata.
Lalu anak itu melanjutkan, “Terima kasih Ayah sudah menunjukkan padaku betapa miskinnya keluarga kita.”
Nyata benar dari cerita tersebut, apa yang dirasa kurang bermakna bagi sebagian orang justru menjadi sesuatu yang berarti bagi orang lain. Semuanya tentu bergantung pada persepsi masing-masing. Kaya atau miskin, miskin atau kaya, rasa syukurlah yang membedakannya.  [Cerita disarikan dari Board of Wisdom]

Kabeh kuwi mung masalah roso...

Rabu, 05 Maret 2014

Cinta Tak Pernah Salah (Part 1)



Horizontal Scroll: Bab 1Hiding My Heart

Senja ini, Kota Solo berseri manja. Sesuai dengan slogan The Spirit of Java, melewati jalan-jalan kecil di sekitaran keraton Kasunanan Surakarta memang menghadirkan sebuah semangat baru yang khas. Patung Slamet Riyadi masih berdiri gagah mengacungkan pistolnya. Disinilah biasanya para mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Solo melakukan aksi demonstrasi. Pagar-pagar tembok rendah berwarna putih tulang yang seirama pada rumah-rumah joglo, nuansa artefak budaya yang elok, patung wrekudara di halaman beberapa rumah sebagai simbol sebuah ketegasan dan kejujuran serta nuansa sakral di seputaran jalan supit urang yang memaksa pengendara kendaraan bermotor berhati-hati. Ya, nilai-nilai filosofis masyarakat Jawa di Solo memang sangat dekat bagi mereka yang bersedia menangkap dan merasakannya.

Maria mengayuh sepedanya pelan-pelan. Tas ransel Eiger woman series warna abu-abu diletakkan di keranjang sepeda bagian depan. Kamera CANON menggantung rapi di lehernya. Sesekali ia membidik hal-hal yang menurutnya menarik. Walaupun sudah hampir tiga tahun ia hijrah di Kota budaya ini, baginya senja di Kota Solo selalu menghadirkan cerita. Para tukang becak yang kecipratan rejeki wisatawan mancanegara yang sekedar ingin mencari oleh-oleh di Pasar Barang Antik Windujenar atau anak-anak jalanan serta pengamen usia remaja yang makin hari makin banyak saja. Untuk hal yang terakhir, Maria sering merasa miris.

Mata Maria lincah mengamati hiruk pikuk sekitar. Rok spandeks panjang warna toscanya berkibar-kibar lembut seiring gemerisik angin yang berdesis santun. Ia melipat sedikit lengan kaos polo warna biru tuanya sambil memicingkan mata ketika mengambil fokus. Ia terkagum-kagum pada keramahan masyarakat yang selalu tersenyum dan berkata ”monggo mbak…” padanya. Padahal, tak satupun si penutur “monggo mbak..” yang ia kenal. “Monggo” dalam bahasa Indonesia berarti “Mari”. Namun bagi masyarakat Jawa, ini hanyalah teks interpersonal yang berarti sapaan saja, bukan ajakan untuk pergi ke suatu tempat. Sapaan seperti monggo atau sugeng siang yang berarti selamat siang, misalnya, membuat si penutur merasa bersaudara dengan objek tutur. Hal ini menciptakan rasa aman untuk mereka dan lingkungan sekitar tanpa ada rasa curiga mencurigai.

Sejarah masa lalu seringkali berbicara tentang harmoni. Pemimpin yang tegas dan dikagumi, rakyat yang tunduk dan setia, alam menjelma semesta yang senantiasa mendukung gerak-gerik manusia. Namun, manusia masa kini membuat buram halaman yang jernih itu dengan merusak heritage, mencorat-coret benda-benda sejarah, membuang sampah tidak pada tempatnya, melanggar ethic values yang diwariskan dan dijaga secara turun menurun dan melupakan semua pesan generasi terdahulu. Perkembangan teknologi dan informasi yang pesat tidak menjamin terbentuknya sebuah peradaban baru yang lebih baik. Manusia justru semakin anti-sosial, semaunya, merasa benar sendiri dan enggan berproses. Ah. Maria tersenyum kecut. Baru saja ia geram, seorang anak muda berkaos merah bertuliskan “Revolusi atau mati” di bagian punggungnya membuang sampah botol plastik sebuah minuman berenergi tepat di hadapannya. Sial! 

Sudah semakin sore. Hampir jam setengah enam. Tapi awan altocumulus masih saja setia menggantung di kaki langit. Biru, cerah sekali. 

“Jepret…” Gadis 20 tahun itu memotret seorang bule yang kekenyangan seusai menikmati nasi pecel ndeso di sebuah warung tenda di kawasan kauman. Sesekali ia membetulkan letak kacamatanya dengan dahi yang sedikit mengkerut. Kata teman-teman sekelas di jurusan Sastra Inggris, kerutan di dahi Maria itu simbol karakter optimis. Tapi, kadang-kadang juga pertanda sifatnya yang galak kalau teman-teman sedang menyepelekan tugas-tugas dari dosen. Apalagi dengan tampilannya yang sangat simple dengan rambut sebahu yang selalu dikuncir kuda. Poninya juga selalu teratur dalam jepit rambut sederhana. Walaupun begitu, sifatnya yang selalu periang membuatnya Nampak sangat manis walaupun sebenarnya tak ada yang istimewa. Senyum dan semangat Maria lah yang membuat ia Nampak istimewa.

Ia mengayuh lagi sepedanya memutar alun-alun Keraton kemudian lurus melewati belakang Pusat Grosir Solo serta Beteng Trade Center yang lumayan megah itu. Dua tempat yang disimbolkan sebagai reformasi pusat belanja yang lebih cantik dan modern daripada Pasar Klewer yang hingga hari ini masih belum berhasil untuk merelokasikan para pedagangnya. Huft, memang susah merencanakan Sesuatu perubahan. Banyak yang harus dipikirkan. Bagaimana nasib para pedagang itu ketika Pasar Klewer harus dibangun? Sudah siapkah Pemerintah untuk menampung mereka di pasar sementara dengan syarat mereka tetap mendapat penghasilan yang sama? Ah, Maria jadi berpikir kemana-mana hingga tak terasa ia telah sampai di depan tempat tinggalnya.

Iya. Hanya sekedar tempat tinggal. This place is just a house. Just a building. Not a home.   Sebabnya, Maria tak pernah merasakan ada ketenangan disini bahkan sejak tiga tahun yang lalu ketika ia baru saja lulus SMA dan kemudian memutuskan untuk kuliah di sebuah Perguruan Tinggi Negeri yang cukup ternama di Solo ini. Dulunya,  rumah ini adalah tempat tinggal sebuah keluarga kecil yang bahagia. Kirana, kakak perempuan Maria satu-satunya menikah enam tahun yang lalu dengan seorang laki-laki bernama Johan. Mereka memutuskan untuk tinggal berdua di Kota Solo karena pekerjaan Johan di kota ini saat itu sedang bagus-bagusnya. Sayangnya, pernikahan mereka tak bertahan lama. Hanya tiga tahun saja. Saat itu, Dion, buah cinta mereka satu-satunya yang saat ini masih berusia tiga tahun bahkan masih berada dalam kandungan. 

Walaupun kakak beradik, Kirana dan Maria memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Dalam hal emosi, Maria yang berusia enam tahun lebih muda dari Kirana justru kelihatan lebih tenang dan dingin dalam menghadapi masalah. Satu kesalahan fatal yang dilakukan Kirana tiga tahun lalu adalah melibatkan terlalu banyak orang dalam masalah rumah tangga mereka. Pada akhirnya, mereka tidak mendapatkan solusi yang tepat selain kisah cinta mereka yang semakin hancur berantakan. Memang, tidak ada yang benar-benar mengerti kedalaman hati seorang suami atau istri setelah pernikahan, melainkan mereka masing-masing. Orang lain hendaknya hanya menjadi cermin, bukan eksekutor.

Ada satu kamar di rumah ini yang kini berubah menjadi gudang barang-barang bekas atau tempat untuk menumpuk mainan-mainan yang rusak oleh Dion. Cat kamarnya kuning gading, warna kesukaan Kirana. Anehnya, di gudang ini masih tetap ada sebuah ranjang berukuran double yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran etnik yang cukup mahal. Dibiarkan saja meja riasan dengan 3 kaca panjang di sisi tengah, kanan dan kirinya. Debu dibiarkan semakin menebal menutupi semua keindahan-keindahan cerita masa lalu itu. Iya, kamar itu adalah bekas kamar Kirana dan Johan. Sepeninggal Johan, Kirana enggan untuk menempati kamar itu lagi. Ia memang tipe perempuan yang melankolis to the max. Seperti ABG yang patah hati, ia bahkan membuang semua barang-barang pemberian Johan. Apapun, yang dapat membawa ingatannya pada mantan suaminya itu, termasuk cincin kawin mereka.

Entahlah, Maria menjadi senantiasa ketakutan membayangkan sebuah pernikahan ketika menatap mata polos Dion yang dengan lugu berkata bahwa ia ingin bertemu Papa. Kasihan sekali. Jagoan kecil yang ganteng dan sangat cerdas ini pasti tak bisa bertanya mengapa Papanya tak pernah pulang ke rumah seperti teman-teman yang lain. Ia pasti belum bisa merangkai kalimat Tanya mengapa Papanya tak pernah menemani mereka jalan-jalan ke mall atau sekedar ikut menjemput Dion ke sekolah. Kirana hanya selalu bilang ke Dion kalau Papanya sedang bekerja di luar negeri untuk beli mainan dan bayar sekolah Dion. Memang benar. Kabar terakhir yang diterima keluarga kami, Bang Johan pergi ke Korea setelah bisnis retailnya bangkrut dan menjadi awal perpecahan hubungannya dengan Kirana. Toh, bersyukur Dion tak pernah bertanya, “apa Papa tidak punya HP sehingga tak pernah telpon ke rumah, Ma? Tidak. Tidak. Itu akan sangat menyedihkan sekali.

“Tante Maria…” seru Dion dengan lucu ketika Maria memasukkan sepedanya ke dalam garasi. Dion sedang asik melukis di atas sebuah buku gambar.
“Halo sayang.. lagi ngegambar apa tuh?”
“Gambar buat sekolah besok.”
“Oya? memang disuruh gambar apa sama bu gurunya?”
“Dion gambar mama. Bagus ya?”
“Pasti dong..ponakan tante paling ganteng. Udah mandi belum sayang?”
“Udah dong.” jawabnya tanpa melepas pandangan ke buku gambar sembari mengangguk mantap.
“Hehe Tante Maria nih yang belum mandi. Tante mandi dulu yah..”

Dada Maria sesak.











Sebuah pesan masuk ke ponsel Maria. Dari Ikko.
  “Apa kabar Mar? Kapan UTS? Minggu depan aku UTS nih. Doain ya biar lancar n IP semester ini bagus.”
                    

 Ikko adalah mantan pacar Maria. Mereka dulu satu SMA dan merupakan pasangan yang cukup fenomenal di sekolah mereka. Ikko adalah ketua Majelis Permusyawaratan Kelas. Sedang Maria sendiri adalah Pengurus OSIS sejak kelas satu. Tugas MPK adalah mengkritisi program kerja yang akan dan telah dilaksanakan oleh Pengurus OSIS. Oeh karena itu Ikko sering berkomunikasi dengan Maria untuk meminta proposal kegiatan atau laporan pertanggung jawaban kalau jatuh deadline. Maria kerapkali sebal dengan Ikko karena selalu cerewet dengan usulan-usulan programnya. Bukan hanya itu. Ikko adalah orang yang sangat detail pada ururan administrasi. Surat menyurat yang kurang rapi, ketikan di proposal yang salah juga menjadi sasaran kritiknya. Fiuh. Bertemu dengan Ikko adalah saat-saat yang paling dihindari oleh Maria.
                     
 Toh, akhirnya mereka bisa jadian juga saat kelas XI. Ikko ada di kelas IPA dan Maria lebih memilih menjadi siswa IPS. Lucunya, justru Maria lah yang memakai kacamata minus 3. Biasanya anak-anak IPA yang mendapat kesan sebagai anak serius, rajin belajar, lebih culun, dan score-oriented. Tapi melihat pasangan Ikko-Maria, dahulu teman-teman satu sekolah selalu terheran-heran. Ikko dan Maria lebih sering berdebat tentang suatu topic berita atau ide-ide kegiatan komunitas daripada menjadi pasangan alay yang suka adu gombal di Facebook atau Twitter. Kadang-kadang mereka suka marahan di forum. Tapi rukun kembali ketika les di bimbingan belajar sore hari karena Maria tidak mungkin berangkat tanpa dijemput Ikko. Kenapa? Tepat sekali. Papa dan Mama maria sangat over protected. Sebelum kuliah, Maria tidak boleh naik motor sendiri.
                     
Ikko menembak Maria suatu sore usai kegiatan battle ekstrakurikuler basket. Dengan nafas yang terengah-engah setelah kalah dari tim kelas XI IPA 3, Ikko menghampiri Maria yang sedang beberes perlengkapan battle anak-anak. Ketika itu, Maria masih persis dengan hari ini. Rambut sebahu kuncir kuda serta  kacamata yang bertengger tegak pada hidungnya yang tak begitu mancung. Ia baru saja menghabiskan es kelapa muda dan sebatang dark chocolate almond favoritnya.
                     “Udah selesai beres-beresnya Mar?” Tanya Ikko kikuk.
                     “Eh. Hampir selesai Ko. Kenapa? Habis kalah ya tadi?” jawab Maria setengah menggoda Ikko.
                     “Hehe, ngeledek nih? Eh, aku mau minta waktu kamu sebentar bisa kan Mar?”
                     “Kenapa? Sekarang juga boleh kok kalau mau marah-marah lagi. Tapi kayaknya revisi aku kemarin udah kelaran deh.”
                     “Iya. Tapi ada yang belum selesai Mar kemarin…”
                     “Hah? Apalagi?” Maria bersungut-sungut.
                     “Kemarin aku belum bilang kalau aku suka sama kamu. Kamu mau nggak jadian sama aku?” Ucap Ikko terbata-bata. Keringat setengah kering setelah main basket tiba-tiba mengucur lagi di wajahnya.

                     Tapi itu sudah berlalu. Sudah lama sekali. Setahun lalu mereka sudah bersepakat untuk putus. Walaupun Ikko masih sangat sering menghubunginya baik lewat sms, panggilan, chat, juga obrolan-obrolan singkat di jejaring sosial. Ikko yang sekarang adalah Ikko yang sibuk dengan tugas-tugas hariannya. Ikko yang sibuk dengan hari-harinya di Himpunan Mahasiswa Jurusan. Ikko yang tidak membutuhkan Maria lebih dari dulu. Ikko pasti telah memiliki pengganti yang lebih baik dan “lebih dekat”.
                     “Baik. Oke aku doain semoga UTS nya lancar ya Ko..”

                     Message sent.

I wish I could lay down beside you when the day is done
And wake up to your face against the morning sun
But like everything I’ve ever known
You disappear one day
So I spend my whole life hiding my heart away…

                     Hiding My Heart dari Adele sayup-sayup terdengar dari playlist PC Maria ketika ia sibuk memindahkan ke folder D. Senja yang cerah telah berubah menjadi gelap. Malam makin merangkak.       
                    
 “Cekleek.”
                     Maria mengunci pintu kamar seusai sholat isya’. Ia sempat melihat Kirana yang menemani Dion belajar menghapal angka dan abjad. Suara jagoan kecil itu sangat lucu dan nyaring. Tak lama kemudian, jari-jari gadis yang bercita-cita memiliki sebuah yayasan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu dan berkebutuhan khusus itu telah asyik merangkai kalimat demi kalimat pada menu write post pada blog pribadinya.

Blue Park, 20.03 WIB

Seharusnya Cinta

 Lagi, bahwa seharusnya kau tahu bahwa kekuatan cinta itu bahkan tetap dahsyat walau ia tak tampak dalam rupa. Cinta, yang walaupun itu picisan dan mereka bilang “cinta monyet” ternyata sanggup mengubah hari-hari sang belia menjadi penuh bunga seribu warna. Ia serupa datang dari pandangan mata, namun ditundukkan oleh hati dan ditakzimi oleh seluruh jiwa dan raga. Kepada mereka, yang tanpa kau sadari ingin kau bahagiakan hari-harinya.
Hukum mencintai adalah memberi hingga sehabis-habisnya tanpa meminta hal itu kembali. Sebab sejatinya dengan member kita tak pernah habis bukan? Sebab memberi adalah menanam selaksa senyuman yang berbekas sangat dalam. Dengan memberi kau tidak akan pernah merasa kekurangan, justru kau akan mendapat lebih. Ucapkan sekali lagi, “dengan member, kau akan mendapat lebih..”
Maka rumus mencintai orangtuamu, kawanmu, kekasihmu, anak-anakmu adalah dengan hanya member sehabis-habisnya, maka kau akan mendapat lebih…
Percayalah! Percayalah bahwa jika rumus ini dibalik, mungkin kau tidak akan lebih tenang dari kondisimu saat ini. Bahwa ketika kau hanya menitipkan mimpimu pada anak-anakmu, ternyata kau menjadi tak tenang karena dipenuhi rasa kekhawatiran. Khawatir jika anakmu tak bisa sesuai inginmu untuk menjadi seorang dokter atau polisi. Khawatir apabila anakmu ternyata kurang pandai sehingga tidak dapat masuk ke Fakultas yang kau inginkan. Dan kekhawatiran itu akan menumbuhkan benci. Namun, dengan memberi sehabis-habisnya, kau hanya perlu untuk memberi bekal pendidikan terbaik, bekal nasehat terbaik serta bekal kasih sayang terbaik. Kau lepas dia dengan kepercayaan yang telah kau hujam dalam-dalam ke hatimu. Aku tau kau tak bisa sepenuhnya percaya padanya. Kau terlalu sayang padanya. Namun kau harus! Sebab tugasmu hanya member saja. Beri terus!
Demikian pada sahabatmu, juga kekasihmu. Kau tak berhak menitipkan rasa cemburu walaupun setitik noda pada kain putihmu. Kau hanya diizinkan untuk mencurahkan segenap ketulusan dengan cintamu. Disana ada tangan yang ringan menolong, disana ada senyuman yang membantunya untuk bangkit, disana ada tangan yang memantiknya ketika tertatih, disana ada kepekaan yang merangkai pita merah muda setiap kali ulang tahunnya. Berikan saja! Beri terus! Biarkan kekuatan cinta yang bekerja.
Percayakah, ternyata hubungan pernikahan dua manusia tidak membuat keduanya terikat untuk tidak berkhianat. Pernikahan tidak berarti bahwa dia adalah saklar yang kau tekan untuk menyalakan lampumu. Tidak. Kadar cemburumu tidak akan berkurang dengan pernikahan. Justru semakin menjadi-jadi. Kau mulai membayangkan setiap  gerak-geriknya ketika dia keluar rumah. Apalagi ketika ia telah berada di tempat yang jauh. Kau akan semakin dipenuhi rasa khawatir karena kau berharap dia akan memberi sesuatu sebagai kompensasi atas pengabdianmu.
Cinta yang tulus lebih dari sekedar menggenapi atau melengkapi. Cinta yang tulus akan menyempurnakan cinta yang lainnya. Seperti sebuah senyuman yang akan berbalas senyuman yang lain lagi. Menjadi pemberi yang dermawan dengan ketulusan memang tidak mudah. Tapi, semua yang terlihat oleh mata, semua yang teraba oleh indera kelak akan habis juga. Tapi rasa yang berwujud cinta, akan hidup dan menghidupi siapa yang memanggilnya.

Selamat Mencintai ya!

Publish. Close tab.

Malam membisu. Ia mengabaikan semua pesan yang masuk bertubi-tubi pada ponsel dan semua jejaringnya. Semoga esok semesta akan merangkum semua tanya yang tak selesai.