Kamis, 29 Mei 2014

Kesaksian!



Orang-orang harus dibangunkan/ Aku bernyanyi menjadi saksi/ Kenyataan harus dikabarkan/ Aku bernyanyi menjadi saksi. 

Sayup-sayup terdengar suara getir Iwan Fals yang menyanyikan lagu “Kesaksian”. Perkawinan musik dan syair puisi WS Rendra yang menghasilkan karya masyhur yang termuat dalam album Kantata Takwa (1990) tersebut membangunkan rasa gusar di hati. Pada akhirnya, saya lelah melihat beragam nilai kebenaran yang ditelan habis oleh kotak bodoh bernama televisi. Semua simbol agung yang terwakili oleh akademisi, intelektual, golongan terpelajar yang memakai almamater institusi keilmuan, kaum agamawan, seniman dan budayawan, semua bercericit riang dalam format acara bernuansa hiburan dan komedi. 

Hari ini, nampaknya memperbincangkan kebenaran bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Perihal keadilan boleh diperbincangkan berseling dengan canda tanpa makna dan irama musik mainstream. Ihwal gagasan kebangsaan boleh diwakilkan tanggungjawabnya oleh selebriti dan komedian, kita jamak melihat mereka berpendapat tentang apa saja, tanpa menghadirkan solusi dalam program infotainment. Calon Presiden hadir menyetor senyum penuh pamrih pada acara ajang hiburan pencarian bakat bernuansa bisnis komoditi kapitalisme. Oh, tentu kita tak boleh mengharap ia akan menyampaikan sebuah platform ideologis-kultural-kebangsaan dan menyuarakan hak-hak rakyat diatas panggung gemerlap. Sang Jendral hadir beberapa detik ikut menyerahkan hadiah kepada pemenang, menghadirkan citra ramah dan gagah lewat senyum dan lambaian tangan. Presiden kita, telah kita ketahui lebih dahulu menelurkan album tembang-tembang gubahannya sendiri. 

Kita bukan bangsa yang murung. Bohong jika ada yang berdendang ibu pertiwi sedang bersusah hatinya. Kita bangsa yang kelebihan hiburan. Setiap hari kita bahkan diberi komando untuk menari secara massal diiringi lagu dangdut yang seakan tidak ada kata basi untuk ditayangkan pada waktu prime time. Tak perlu risau, saya sendiri sudah kehilangan nalar kritis untuk memahami habitus apa yang sedang dicita-citakan oleh para pekerja kreatif yang ada disebalik media televisi.

Pelan-pelan kita diarahkan untuk menjadi generasi tuna pikir. Penjajahan fisik memang telah lama berakhir, tapi penjajahan non-fisik terus dilanggengkan. Orde baru boleh jadi membungkam mulut kita, namun di abad pemikiran, justru nalar pikir kita yang terbungkam. Kebohongan-kebohongan lancar mengalir di jalan raya mulut kaum-kaum intelektual yang kerap tampil untuk berdebat di layar kaca. Isu ketidakadilan hukum, pelanggaran Hak Asasi Manusia dan pelanggaran hak-hak rakyat lebih baik ditenggelamkan atau dapat diputarbalikkan sesuai keinginan. Urusan pembentukan opini publik, tinggal “wani piro” sajalah, bro!

Negara ini telah merdeka dan berdaulat sejak dibacakannya proklamasi atas nama bangsa Indonesia oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945, katanya. Namun, kita dipaksa untuk lupa bahwa hari ini fakta keadilan dan kebenaran tidak pernah lebih tinggi dari keinginan para politisi, raja-raja dan tentara. Ibarat bangunan, dari dalam rumahnya, polemik ekonomi, hukum, sosial, budaya, agama dan pendidikan hanya sebatas make up di negeri pesolek. Semua urusan itu tak harus diperbincangkan dengan serius bersama ahlinya, tak mesti diperjuangkan untuk mencapai tujuan bernegara. Oleh karena itu, sah-sah saja jika kursi parlemen diduduki oleh wajah-wajah selebriti. Kita hanya butuh bersolek dan melakukan politisasi!

Sementara di luar bangunannya, para penguasa sibuk mencari cara untuk menakut-nakuti rakyatnya. Rakyat yang merupakan pemilik sah negeri ini. Kita tak bisa lupa bahwa negeri ini berdiri diatas darah para aktivis yang bahkan hingga hari ini tak dapat kita temukan pusaranya sebab dibungkam oleh doktrin fasisme. Penguasa berotak penculik dan pembunuh itu melupakan satu hal, bahwa ketakutan yang terus menerus disuguhkan lama-lama akan menimbulkan kebosanan. Rakyat telah bangun untuk melawan, rakyat telah menebar biji-biji di temboknya dan berteriak : Kau harus hancur! Kau harus hancur! Demikian Wiji Thukul memekik dalam sajak Bunga dan Tembok (1994).

WS Rendra memang telah mati. Presiden SBY tak kenal siapa Rendra. Ia menyampaikan duka belasungkawa pada kematian selebriti tapi tak berkata apa-apa untuk kematian Rendra. Tapi demi Sang Burung Camar yang telah berada di surgaNya, pesannya sebelum mati senantiasa terhujam dalam dada, yakni agar kita semua terus menjadi saksi… 

Hari ini, kami menjadi saksi atas elite tamak yang terus memperdalam neoliberalisme, undang-undang ketenagakerjaan yang memasung buruh dan hak-hak pribadinya, privatisasi dan bisnis pertanian yang mengangkangi kepentingan petani skala kecil dan buruh tuna-tanah, miliaran dolar yang dipindahkan ke bank-bank internasional, serta penghisapan sumber daya alam nasional yang menistakan posisi masyarakat adat… kami berikan kesaksian!

Orang-orang harus dibangunkan. Rakyat Indonesia belum merdeka, para founding fathers hanya sempat mengantar hingga pintu gerbangnya . Soekarno (1963) selalu berpesan bahwa Revolusi Indonesia belum selesai.  Perjuangan melawan bangsa sendiri lebih sulit dari melawan penjajah. Kita tak ingin negara kita hanya menjadi peta, apalagi peta yang lusuh dan tinggal disobek pula. Nasionalisme bergerak harus segera dibangkitkan, revolusi mental harus didukung. Kita butuh memaknai kembali Pancasila agar tidak saling berebut merumuskan cita-cita dalam tenun kemajemukan bangsa.

Orang-orang harus dibangunkan. Tak pernah ada Negara yang utuh tanpa rakyat yang dimanusiakan. Kekuasaan borjuasi oleh kelas priyayi buah perkawinan budaya kolonialisme dan feodalisme mesti dicerabut hingga akarnya, diganti dengan kesadaran demokrasi yang sesungguhnya. Ritus sosial media hanyalah panggilan perjuangan untuk segenap lapisan. Aksi massa yang sesungguhnya butuh agitasi, orasi dan propaganda di dunia nyata. Lapis kekuatan sosial yang memperjuangkan rakyat tak akan selesai dengan reply dan retweet.

Orang-orang harus dibangunkan, Segala hajatan yang berkaitan dengan nasib rakyat seperti agenda memilih pemimpin mestinya merupakan pergelaran basis ideologis yang menawarkan agenda pencerdasan hingga rakyat turut merasa optimis. Kontestasi bermartabat bukan sekadar lolongan saling fitnah, namun mengemukakan strategi ideologis untuk memuliakan rakyat demi mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Kami akan terus menjadi saksi…

Ps : Terimakasih buat yang sudah mengenalkan album Kantata Takwa ke saya :D :D




Kamis, 15 Mei 2014

Senja Bersama Kamu

Pada suatu siang kau mengirimkan sebuah pesan di ponselku. 
“Bersiaplah. Pukul 16.00 tepat kita akan berangkat ke suatu tempat.”
Aku bersungut. Kau memang selalu penuh dengan kejutan, sekaligus termasuk banyak hal yang sulit aku kabulkan ketika aku sedang malas.
“Kemana?”
Aku diam-diam segera berjingkat dari kasur kos dan meraih handuk serta peralatan mandiku. Aku tahu, kau akan memberikan satu kisah lagi hari ini. Kisah kita, yang mungkin menjadi satu-satunya hal yang tidak berubah menyedihkan ketika kita menjadi tua nanti.
Pukul 16.00. Kau datang tepat waktu seperti biasanya. Tadi kau bilang pada pesan balasanmu bahwa kita akan pergi ke suatu tempat yang tak kan membuatku menyesal melewatkan hari ini.
“Tenang saja. Tempatnya dekat.”
“Berapa lama?” tiba-tiba aku risau. Kelakuanmu sering kali berbahaya.
“7 menit.”
Otakku mulai berputar-putar mengingat tempat-tempat mana yang mungkin akan kita kunjungi sore ini. Sepertinya tidak ada tempat special di sekitar kos, kampus atau sanggar seni yang menarik untuk ditempuh dalam waktu 7 menit. Kalau sekedar melihat kereta melintas di rel yang terbangun diatas sungai bengawan solo, bukankah itu sangat biasa kita lakukan? Oh, bahkan kebiasaan kita yang inipun sangat aneh dan tidak wajar. Belakangan, suara kereta yang berderu itu selalu membawa kita untuk mengingat rumusan matematika yang kerap membuat manusia menjadi terburu-buru : jarak, keberangkatan, kecepatan, perjumpaan dan perpisahan.
Kau membawa motormu pelan-pelan. Aku tidak asing dengan padatnya jalanan yang kau belah. Hingga kemudian berbelok pada jalan-jalan pedesaan yang belum pernah aku jamah, padahal kurang lima menit saja jaraknya dari kosan. Keberanian manusia memang jarang terlatih ketika telah menemukan jalur-jalur aman, seperti contohnya aku yang tak pernah ingin menemukan tempat kemana kau bawa aku saat ini.
Matahari mulai bergerak ke arah barat. Sebentar lagi senja. Sepertinya ini senja yang ke-berpuluh kali yang kulewati hanya denganmu saja. Sekali dua kali tanpa kau tahu, aku menjadi takut memiliki lebih banyak kenangan bersamamu daripada dengan suamiku nanti. Sial.
Kita berhenti pada sebuah buk tepi jalan pedesaan.Benar. Hanya 7 menit. Aku melihat sawah menghampar di sisi kanan dan kiri. Masih hijau benar. Para petani baru selesai bertanam. Sebagian tanah masih hitam karena belum selesai dibajak. Pada sawah sisi kiri, mataku merayapi gunung lawu yang nampak gagah. Dan pada sisi kanan, gunung merapi terlihat manis disebalik rimbun bukit. Tepat di bawah buk tempat kita duduk adalah selokan kecil beraliran air jernih yang membelah pematang. Kulitku agak basah dengan sisa hujan tadi siang yang meninggalkan jejak pada pucuk-pucuk daun pohon sirsak yang memayungi kita.
Kita bertatap sebentar. Mata kita saling mengucap terima kasih. Kemudian kau mulai bercerita bahwa sejak menjadi mahasiswa baru di kota ini kau seringkali mengejar senja di tempat ini. Apakah sendiri, bersama mantan kekasihmu, dan kembali sendiri dengan membawa luka-luka lama. Namun sore itu, aku bersamamu. Berdua saja.
“Gunungnya indah sekali. Mirip sekali dengan yang ada di lukisan. Aku sering bertanya mana yang hadir lebih dulu, apakah penciptaan dari mahakarya berupa ala mini ataukah lukisan yang indah sekali.”
“Tapi pastilah alam ini hadir lebih dahulu ya. Sebab Tuhan tidak pernah menyontek. Dan lukisan itu, dapat kusebut indah juga sebab memori tentang eksistensi alam yang lebih dahulu menjadi pengalaman dan pengetahuanku.”
Aku sibuk mengambil posisi terbaik untuk mengabadikan beberapa potongan cerita. Kubidik gambar gunung lawu dan merapi yang memiliki latar warna senja berbeda. Tak ketinggalan juga beberapa petani yang mulai memaknai kembali kaosnya setelah letih bertanam seharian. Aku membayangkan cinta yang menyambut mereka sesampainya di rumah nanti, tentang istri dan anak-anak yang merasakan rindu lengkap dengan menu makanan sederhana yang telah terhidang.
Sejak sore itu, aku menjadi lebih sering memandangi senja. Kadang aku iseng mencoba memberikan makna ini dan itu, mengamati tiap detail warnanya yang berubah-ubah mulai sejak kuning keemasan hingga menjadi abu-abu tua. Dan disela mega yang menghampar di luas cakrawala itu, ada ingatan tentangmu. Bukan, bukan tentang wajahmu. Apalagi senyummu. Tapi suaramu yang berisik ketika sedang bercerita.
Kau bilang kau khawatir bahwa suatu saat sore yang seperti ini tak akan pernah kita lihat lagi.
“Tiga tahun lalu pertama kali aku kesini, rumah-rumah itu belum ada. Hanya ada sawah yang sangat luas. Tapi sekarang, perumahan-perumahan baru semakin mencuri kesenangan sederhanaku ini.”
“Kesenangan murah maksudmu?”
“Ya. Kita jarang sadar bahwa yang murah itu sesungguhnya sangat indah dan mahal. Bentuk-bentuk awan itu setiap harinya tidak pernah ada yang sama. Tuhan memang Maha Besar.”
Kau terdiam sejenak sambil memandang kaki langit.
“Aku benci dengan budaya di Indonesia yang bilang seakan-akan kalau anak sudah berumah tangga itu wajib untuk membeli rumah baru. Kalau tidak sanggup beli rumah, dibilang tidak mampu. Padahal tidak ada teori yang berkata seperti itu. Akibatnya apa? Perumahan-perumahan baru semakin banyak. Masalahnya, rumah yang sudah terbangun nggak akan bisa kembali jadi sawah lagi.”
Aku mendengarkan dengan seksama. Era Industrialisasi memang merampas banyak hal yang bisa kita dapatkan secara gratis. Air, keakraban di tempat umum, apalagi hari ini yang bebas dari membayar? Hanya cinta. Itu juga tidak berlaku untuk cinta yang punya kekhawatiran tidak mampu hidup layak.
“Aku ingin punya anak yang cerdas.”
“Cerdas bagaimana?”
“Bayangkan jika suatu saat aku melarang anakkku untuk melakukan suatu hal dengan alasan hal tersebut berbahaya. Kemudian dia bisa menjawab : itukan menurut ayah? Kemudian kami berdeat kecil untuk menyimpulkan apakah hal itu boleh dilakukan atau tidak. Menyenangkan sekali punya anak yang cerdas seperti itu.”
“Itu cerdas atau bandel namanya?” Alisku berkerut-kerut sambil membayangkan ada seorang anak laki-laki kecil seperti dirimu yang sedang bermain layang-layang di hamparan sawah di depanku.
“Cerdas. Tapi aku butuh calon ibu yang cerdas juga biar cita-citaku itu berhasil.”
Mengenalmu, aku menjadi yakin bahwa persahabatan adalah hubungan paling megah yang bisa dibangun antar sesama manusia. Tidak sekalipun pernikahan ataupun hubungan antara sepasang kekasih bahkan bisa menandinginya. Tapi, oh, lagi-lagi kau pasti akan menyela.
“Tidak,” Katamu, “Sebab semua yang memberikan sebagian dirinya dengan cinta, sudah pasti menjadi luhur.”
Aku mengangguk bersepakat. Entah yang keberapa kalinya. Setiap kata-katamu memang manis.
Hari mulai gelap. Matahari tertutup sabut awan kelabu. Seperti biasanya, kita sudah terlalu banyak ngelindur hari ini.

Selasa, 25 Maret 2014

Menyemai Pendidikan Spiritualisme Kritis



Esai ini saya tulis untuk menanggapi esai berjudul “Anak Muda dan Problem Pendidikan Kita” yang ditulis oleh Anwar Noeris di Harian Jogja (14/3/2014). Esai itu bermaksud menanggapi kasus pembunuhan Ade Sara Angelina (19), seorang mahasiswa Universitas Budi Mulia oleh Hafiz (19) dan pacarnya Assyifa (19) yang sempat menggegerkan publik pekan lalu. Menurut Anwar, kasus tersebut  membuktikan kegagalan sistem pendidikan kita.
Nilai-nilai pendidikan yang didapat pelaku, seolah tidak berkesan apa-apa terhadap dunia riilnya. Anwar kemudian menduga bahwa hal ini disebabkan karena sistem pendidikan di Indonesia telah terpengaruh oleh sistem pendidikan sekuler modern yang melahirkan jiwa-jiwa sekuler, pikiran-pikiran yang berbasis kesenangan semata dan berfoya-foya. Bagi Anwar, solusi yang paling tepat untuk mengatasi “pengaruh buruk” tersebut adalah  sistem pendidikan islam, yang konsentrasinya adalah pembentukan nilai-nilai kepribadian yang agamis.
Saya pribadi memakai kacamata lain dalam melihat kasus pembunuhan berencana diatas, yakni kita tak dapat langsung menujukan kesalahan pada pendidikan formal yang gagal. Saya lebih senang menyoroti teori perkembangan kognitif yang dicetuskan oleh Pakar Psikologi Jean Piaget (1896-1980) dalam buku Life Span Development. Menurut teori tersebut, tersangka pembunuhan yang berusia 19 tahun dapat dikategorikan ke dalam tahap operasional formal. Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif yang mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai.
Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini menandai masuknya anak ke dunia dewasa baik secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Namun faktanya, tidak semua anak berhasil melalui fase ini dengan sempurna. Konteks sosial yang merupakan salah satu sudut pandang dari perkembangan kognitif menyatakan bahwa lingkungan sosial dan budaya akan memberikan pengaruh terbesar terhadap pembentukan kognisi dan pemikiran anak. Seperti kita ketahui, di era keterbukaan informasi hari ini, anak-anak banyak sekali mendapat input yang berasal dari sumber yang tak terbatas melalui beberapa klik saja serta banyak citra yang ditangkapnya lewat berbagai tontonan.
Selanjutnya, solusi yang ditawarkan Anwar juga sangat utopis sekaligus hanya kembali pada “status quo” mengingat sistem pendidikan nasional kita sebagaimana tercantum dalam UU Nomor 20 tahun 2003 sebenarnya sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam. Sebagaimana kita tahu, pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jelas, tak ada yang salah dengan desain sistem pendidikan kita.
Nilai sekuler modern yang diduga melahirkan sikap-sikap negatif ini justru akan mengalami logika terbalik jika dihadapkan dengan solusi berupa agama monotheis (islam). Hal yang paling utama dari kesadaran modern sesungguhnya adalah kemampuan berpikir kritis. Buah rasio adalah buah yang paling patut disyukuri dalam gejala modernitas yang merupakan sebuah keniscayaan hari ini.
Namun, ketika rasionalitas berkembang, banyak orang yang justru mencurigai agama-agama monotheis. Kesalahan kaum sekularis yang menolak kehadiran agama adalah justru membiarkan agama jatuh ke tangan kaum fundamentalis. Akibatnya, hari ini yang kita lihat adalah gap yang lebar antara kaum sekuler dengan kaum fundamental yang sebenarnya tidak sedang benar-benar memperjuangkan kebenaran universal, melainkan membela sisi egosentrisme masing-masing.
Spiritualisme kritis, istilah yang dipopulerkan oleh Ayu Utami membawa sebuah ide agar kita tidak latah menghadapi modernisme. Kita memang butuh merebut kembali agama-agama monotheis untuk menafsirkannya kembali dengan lebih terbuka.
Hal ini bertepatan dengan momen uji coba Kurikulum 2013 yang memperbanyak porsi bagi pelajaran Agama dan juga Pendidikan Kewarganegaraan sebagai klaim pembentukan karakter bagi anak. Alih-alih membentuk karakter, dua pelajaran yang bersifat dogmatis tersebut justru dapat memicu timbulnya generasi pro kekerasan dan anti toleransi jika tidak diajarkan secara progresif. Disinilah pentingnya menyemai pendidikan spiritualisme kritis. Yakni sebuah upaya untuk membumikan kembali nilai-nilai kebenaran universal dalam bahasa yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari dan fitrah alamiah.

Selasa, 18 Maret 2014

Tentang Menulis : Mentafakkuri Jalanan Sunyi




Pagi ini, saya kelewat senang karena tiba-tiba ada sebuah chat dari mas Hendi Jo, penjaga gawang redaksi islindo (www.islamindonesia.co.id). Kata mas Hendi : Kalis, tulisanmu bagus. Boleh minta nomormu? nanti aku telpon. Oh well, hati saya langsung melayang ke langit tingkat ketuju, bibir saya senyum lima senti ke kiri dan ke kanan, tapi juga sekaligus terharu. Ada tetes air meluncur dari sudut kelopak mataku. Kebiasaan, saya suka berlebihan kalau mendapat pujian dari redaktur media atau penerbit tertentu.

Mengapa?

Bagi saya, pekerjaan menulis adalah pekerjaan mentafakkuri jalan sunyi. Dari berbagai pelatihan yang saya kebetulan diundang untuk mengisi acaranya, kebanyakan pertanyaan yang diajukan oleh peserta adalah :

1)      Mbak Kal, bagaimana sih agar tulisan kita bisa dimuat di media?
2)      Mbak Kal, bagaimana sih caranya agar bisa menulis bagus?
3)      Mbak Kal, bagaimana sih caranya membagi waktu antara kuliah, membaca dan menulis juga aktifitas keorganisasian yang lain?

Untuk pertanyaan yang terakhir, biasanya langsung saya buang ke keranjang sampah. Saya sampaikan kalau ini acara pelatihan menulis, bukan acara pelatihan manajemen hidup. Yap, kita beralasan tidak punya waktu untuk menulis, berkelit kekurangan waktu untuk membaca dan lain-lain pemakluman yang lain, tapi kenyataannya, kita tak pernah kekurangan waktu untuk bermain gadget, hang out tanpa hikmah dan tidur.

Catat : Saya bukan orang yang rajin-rajin amat, bahkan saya cenderung punya waktu yang berlebihan untuk tidur . Heuheuheu

Tentang pertanyaan bagaimana nomor satu dan nomor dua, jawaban saya hanya satu : Membaca dan Menulis adalah menulis itu sendiri. Saat saya sedang membuat catatan ini, menulis ya sama dengan menulis itu sendiri. Saya dengan sadar dan mentally active sedang mengetik gagasan-gagasan yang berlompatan di pikiran saya.

Saya tidak percaya dengan pelatihan-pelatihan dengan format “menulis bahagia” dan semacamnya. Pelatihan-pelatihan menulis yang saya ikuti dan berkesan bagi saya, kebanyakan justru “tidak membuat saya bahagia” karena biayanya mahal, memberikan saya banyak tugas yang implementatif tanpa banyak omong dan pulangnya saya dibikin resah tak tenang.

Setelahnya, tidak ada resep lain untuk bisa menulis selain membaca. Lho, lalu bagaimana dengan teknik? Lalu, bagaimana dengan proses kreatif itu sendiri? Ya, tetap saja jawabannya adalah membaca!

Proses membaca yang dilakukan oleh seorang penulis berbeda dengan proses membaca yang dilakukan “orang biasa”. Seorang penulis yang membaca akan berpikir, menganalisis, dan mengkritisi jika mampu.

Ketika membaca novel, seorang calon penulis novel akan memperhatikan baik-baik bagaimana teknik penceritaan pengarang, bagaimana ia menggarap setting, bagaimana ia membangun karakter, bagaimana ia memainkan alur dan plot.

Ketika membaca esai atau feature, seorang calon esais akan memperhatikan bagaimana gagasan itu dibangun, bagaimana antar paragraph koheren, bagaimana simpulan dan ide itu diwacanakan, motif apa yang ada dibaliknya (argumentative, persuasive, dan lain-lain)

Dari proses membaca yang semakin banyak, maka akan terjadi proses seleksi. Maksudnya, kita akan cenderung pada beberapa penulis yang kita anggap mengakomodasi kebutuhan kita akan suatu tulisan yang informative dan estetis menurut selera pribadi kita. Jika saya senang membaca Koran Kompas, maka kemudian saya mencintai tulisan-tulisan Bre Redhana, Sindhunata, maupun Yasraf Amir Piliang. Dari kecenderungan itu, saya akan melacak lebih jauh artikel-artikel yang mereka tulis dan menduplikasi cara mereka bertutur dan berwacana. Begitu yang saya maksud.

Hampir seluruh proses itu jauh dari hingar bingar dunia yang menyenangkan. Seseorang akan “tersiksa” ketika membaca. Ia tidak sempat mikir apakah dirinya akan tenar atau tidak, yang ada ia akan dihantui konsekuensi logis dari jiwa yang berpikir : keresahan dan keinginan untuk bersikap. Seseorang akan “tersiksa” ketika menulis. Bagaimana agar gagasan itu bersifat universal, dapat diterima dan yang paling penting : mencerahkan umat.

Pertanyaan semacam : Bagaimana agar tulisan kita dimuat , menurut saya lumayan menjijikkan. Saya lebih suka pertanyaan : Bagaimana agar kita dapat menulis yang bagus dan mencerahkan.

Tak banyak calon penulis yang tahu bahwa semua penulis pasti lebih banyak mempunyai karya yang tertolak daripada karya yang dimuat. Setelahnya penulis akan lebih giat belajar, merevisi dan menulis lagi dengan lebih “gila”.

Saya jadi ingat Film "Gie" yang saat itu dikritik bahwa tokoh Gie yang dimainkan oleh Nicholas Saputra terkesan terlalu banyak merenung-renung. Buat saya, ya memang seperti itu pengalaman yang akan kita rasakan. Toh nyatanya Gie tak hanya merenung-renung. Untuk dapat menulis, ia mengamati gejala, ia berdiplomasi dengan banyak pihak, ia berpartisipasi dalam aktivitas dan sikap politik. Penulis adalah ideolog yang sudah pasti harus memiliki sikap (keberpihakan) tertentu.

Menulis adalah ikhtiar untuk memelihara akal sehat. Menulis adalah perjuangan dakwah bil kalam. Kita hanya menempuh jalan sunyi, mendapati tak ada sesuatupun yang kita dapatkan selain jiwa yang puas karena telah melaksanakan fitrah untuk terus merasai dan memaknai.



Selamat menulis!

Senin, 17 Maret 2014

Siapa yang sekuler?



Kurikulum 2013 telah diuji coba. Kurikulum yang lahir dari kekhawatiran Pemerintah yang menganggap dekadensi moral generasi muda sudah semakin mencapai titik kritis ini menerjemahkannya ke dalam desain kurikulum baru. Hal-hal baru tersebut, terutama perbedaan mencolok di tingkat pendidikan dasar antara lain  menghapus mata pelajaran Bahasa Inggris (sebagai klaim pembentukan nasionalisme yang lebih kokoh), menghapus mata pelajaran IPA (diusahakan untuk mengajarkannya secara tematik integratif) serta menambah porsi untuk mata pelajaran agama, PKN, penjaskes dan kesenian, dengan harapan dapat menjadi pondasi bagi pendidikan karakter anak.

Kita boleh memandang optimis pembentukan karakter melalui mapel-mapel tersebut, hanya jika guru (pengajar) dan instrumen mengajar tidak membuat anak bagaikan kerbau tanpa boleh berpikir dan menginterupsi. Pelajaran-pelajaran diatas memicu peluang tersampaikannya ilmu atau nilai-nilai moral secara dogmatis. Alih-alih mengajarkan karakter, yang terbentuk justru generasi yang tidak terbiasa berpikir kritis hingga muncullah generasi pro-kekerasan karena tak terbiasa menerima perbedaan dalam kehidupan sehari-hari . 

Saya ingin mengingat masa kecil dimana saya pertama kali diperkenalkan kepada islam. Sejak saya mengenal kata “agama” , saya dipahamkan bahwa islam adalah agama saya. Saya menerima hal tersebut sebagai sebuah warisan mutlak tanpa menyadari bahwa perkara beragama seharusnya dipilih berdasarkan kesadaran iluminatif yang membawa konsekuensi logis pada diri kita untuk melaksanakan semua kewajiban lain semata-mata hanya untuk Tuhan. Kemudian kira-kira pada usia 5 tahun, saya pergi ke Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) untuk belajar membaca Al Qur’an dan berlanjut ke Pondok Pesantren untuk belajar Fikih, Tauhid, Akhlak, Nahwu, Shorof dan lain-lain. Beruntungnya, pengalaman-pengalaman di Pondok Pesantren memicu saya untuk terus belajar dan menambah referensi.

Sejak kecil kita cenderung menerima agama sebagai dogma lewat metode yang sama sekali tidak memberikan kita kebebasan berpikir. Akibatnya, hingga dewasa, orang-orang menjadi takut untuk belajar agama secara mandiri bahkan malas mencari tahu sendiri walaupun untuk hal-hal kecil. Ulama atau lebih sering disebut ustadz menjadi orang yang sangat “suci”. Mereka yang menolak sekulerisme sebenarnya seringkali paradoks sebab justru memisahkan hal-hal duniawi dengan mengkultuskan peran ustadz atau ulama. Tak heran jika akhir-akhir ini banyak kasus berkenaan dengan kekecewaan umat kepada ustadz-ustadz selebritis di televisi. Padahal, dalam islam, hakikat penciptaan manusia tercantum dalam Q.S Al Baqoroh:30 bahwa manusia terlahir untuk menjadi pemimpin. Umat harus sadar tentang persamaan manusia dalam tanggung jawab mencari ilmu dalam upaya pencapaian kemandirian berpikir.

Di usia mahasiswa, bahkan dalam hidup bermasyarakat sekarang ini, saya memiliki banyak jenis kawan. Dalam masalah jilbab misalnya, ada yang mempertanyakan mengapa mereka harus berjilbab. Sedang disisi lain, bagi yang telah berjilbab (sesuai kategori syar’i mereka) pun gemar mengutarakan pandangan-pandangannya. Diskursus semacam ini sebenarnya terlambat untuk diperbincangkan pada fase perkembangan usia saya, harusnya kita dapat memperbincangkan hal-hal yang lebih strategis untuk kebermanfaatan umat, namun hal ini juga bukan masalah selama terjadi dialektika yang sehat sesuai kaidah-kaidah dakwah yang tercantum pada surat An Nahl : 125. 

Alangkah lebih eloknya apabila generasi muslim/ muslimat dapat mengejar ketertinggalannya serta segera berbenah maju. Pada Negara-negara sekuler, mereka dapat cenderung lebih maju sebab persoalan-persoalan menyangkut akidah dan agama, bagi mereka kurang strategis untuk dibicarakan di tataran publik. Di Indonesia, islam sebagai agama mayoritas jelas harus memiliki corak dan formulasi khusus agar islam dapat benar-benar menjadi agama rahmatan lil alamiin.

Kita tentu tidak ingin bertanya-tanya, bahwa di Negara yang sekuler dengan penemuan-penemuannya yang berguna bagi peradaban hari ini, apakah justru mereka lebih membawa keimanan pada tahap kesadaran dan orientasi mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari? Sedang kita disini sebagai mayoritas, isu agama atau islam yang kita dengar sehari-harinya adalah isu kekerasan, perbedaan antar fikrah yang menunjukkan bahwa kita masih sama-sama belajar, dan tak satupun tentang islam yang memanifestasi dalam kemajuan peradaban? Mana yang lebih sekuler?