Jumat, 18 Juli 2014

Risalah Cinta Sahara


Cerpen Kalis Mardi Asih
 

Aku suka tubuhmu yang kurus kecil. Nampak ringkih dan penyakitan, padahal kau pasti tak pernah sampai kelaparan. Walaupun kau juga merokok seperti kami, kebutuhan gizimu pastilah sangat tercukupi. Aku juga menyukai gelak tawa yang cair di tengah-tengah ritual mendongengmu di sekolah terminal tiap dua kali seminggu. Kalau boleh memohon pada Tuhan, sejak kedatanganmu, rasa-rasanya aku ingin semua hari berubah menjadi Rabu dan Sabtu, hari ketika kau terjadwal datang ke markas kami -sebuah ruang bekas pencatatan administrasi di belakang terminal kota Depok- agar aku bebas memandangimu dalam waktu yang lebih dari lama.

Tidak hanya aku yang menyukaimu. Hampir semua anak yang biasa mangkal di belakang terminal membicarakanmu pada hari-hari senggang ketika kami menghitung uang hasil mengamen sambil istirahat untuk sekadar minum bir oplosan dan menghisap uap lem aibon. Menurut pendapat mereka, Kak Abdi adalah teman baik yang tidak perlu dicurigai dan dilawan seperti para mahasiswa pengajar sekolah terminal yang lain. Kak Abdi sangat berbeda, tidak seperti gerombolan orang-orang suci yang tiba-tiba sering datang ke tempat kami dan memberikan ceramah tentang halal-haram, surga-neraka, dan juga baik-buruk. Benturkan saja khotbah-khotbah khayal itu ke jidat kami dan jangan harap sampai masuk ke kepala apalagi berharap kami percaya.

Dua bulan lalu, sekolah terminal yang katanya program mahasiswa kampus ternama berjaket almamater kuning cerah itu mendapat persetujuan Ustadz Khomeini, imam masjid terminal yang rajin adzan lima kali sehari dan lebih sering sholat sendirian karena sepertinya tak ada orang yang ingin pergi menjadi makmumnya.  Terminal tetap hiruk pikuk diantara teriakan dan makian, kepulan asap bis, angkutan umum, derit klakson mobil, motor dan asap rokok. Bau-bau keringat para sopir, kondektur, pegawai dinas perhubungan, tukang parkir, pedagang asongan, pengamen, pengemis, mucikari dan lonte yang biasa mangkal di losmen-losmen belakang terminal tertinggal di warung-warung makan, kendaraan, loket, tembok, kursi tunggu, dan angin di terik siang yang membakar kulit.

Aku tidak pernah tahu apa arti nama Sahara. Lagipula sampai hari ketika kau datang aku juga tak menganggap penting arti dari sebuah nama. Aku hanya tahu bahwa namaku Sahara. Memang sepertinya aku pernah dengar dari pelajaran-pelajaran di sekolah yang jarang kuperhatikan dengan sungguh-sungguh tentang sebuah gurun di Afrika bernama Sahara. Tapi hanya kamu yang bilang kalau barangkali orangtuaku menginginkan aku punya hati yang luas seperti luasnya gurun sahara.

Hati yang luas? Ah, siapa peduli? Tidak sekalipun ibu atau bapak. Ibu hanya seorang buruh cuci berbadan ringkih yang suka menangis ketika bapak pulang ke rumah. Kurasa ia istri yang kurang beruntung dan sangat aneh karena tak pernah mengharapkan suaminya pulang. Bapakku adalah seorang kondektur bis antar kota yang jarang pulang. Barangkali karena manjurnya doa-doa ibu. Tapi semanjur-manjurnya doa ibu, tetap saja sekali waktu bapak pulang. Bapak selalu pulang dengan membawa perempuan muda yang badannya tidak ringkih seperti Ibu. Lalu ibu akan menangis lagi. Dan aku tidak peduli.

Kata orang, aku adalah anak bajingan. Kaupun juga bilang begitu. Sesuai usul Bonek, ketua geng anak terminal, kami harus menceritakan semua aktivitas yang biasa kami lakukan dengan jujur agar para mahasiswa yang membosankan itu tidak betah dan tidak datang-datang lagi ke tempat kami. Bukankah program para manusia terpelajar yang sudah-sudah juga begitu? Paling-paling hanya kuat paling lama sebulan, mereka sudah tidak berminat “berkawan” dengan kami lagi seperti yang mereka ucapkan di awal pertemuan. 

Biasanya Bonek akan bercerita dengan mantap kalau ia biasa membayar duapuluh ribu rupiah agar bisa “dipijit” Tante Rina di losmen belakang terminal. Riko dan Deri akan bercerita disertai tawa yang menggelegak mengingat pengalaman-pengalaman mereka ketika saling memuaskan hasrat satu sama lain karena penghasilannya habis untuk biaya sekolah adik-adiknya yang masih belajar di Sekolah Dasar. Puluhan anak yang lain juga akan menceritakan hobi mereka kabur dari sekolah, memukuli teman sekolahnya yang sok kuasa mentang-mentang kaya, dan yang paling banyak tentunya tentang cerita-cerita menyedihkan mengapa mereka putus sekolah.

 Aku yang katamu berhati luas ini, sudah bergabung bersama geng Bonek untuk mengamen sejak usia sembilan tahun. Selain mengamen, aku juga sering datang ke losmen untuk memijit. Aku kerap mengamen dengan pakaian seksi, sebab seringkali ada om-om yang kemudian menawarku dan kemudian minta dipijit di losmen. Hasilnya lumayan. Aku tidak perlu lagi minta uang untuk bayar sekolah pada Ibu.

Tapi ketika berdekatan denganmu, rasanya aku ingin yang lebih dari itu. Aku merasa aman ketika tempo hari kau mengelus rambutku. Ada getar yang tak biasa, yang ingin sekali aku raih dan aku bungkam dalam waktu. Entah apa.

Tempat kami mengamen dibagi-bagi oleh Emon, lelaki seumuran ayah yang suka berbuat jahat pada beberapa anak laki-laki. Seperti ayah, Emon suka memukul jika hasil mengamen kami tidak terlalu banyak. Emon adalah satu-satunya alasan kami ikut kegiatan-kegiatan membosankan semacam sekolah terminal karena kami punya alasan jika pendapatan kami berkurang. Emon tidak akan berani berhadapan dengan Ustadz Khomeini. Ia berkali-kali dilaporkan ke polisi oleh Pak Ustadz. Tapi ia selalu saja bisa kembali menemukan markas kami setelah keluar dari penjara.

Anak-anak orang kaya yang suka memakai baju dan barang-barang bagus  itu mengajar matematika tiap hari Rabu dan bahasa inggris tiap hari Sabtu. Mereka bilang dua pelajaran itu penting agar kami bisa menjadi orang sukses. Padahal kami tidak pernah ingin jadi orang sukses. Oh, sebenarnya kami tidak tahu arti sukses itu apa. Barangkali, orang sukses itu adalah yang seperti mereka. Kalau benar begitu, aku dan geng anak terminal tidak ingin jadi sukses. Kami hanya ingin terus sama-sama. Minum bir, ngelem sambil sesekali mengendorkan otot-otot bareng tukang pijit di losmen kalau ada uang hasil ngamen yang tersisa. Yang penting kami aman dari jeritan dan makian yang ada di rumah. Aku juga aman dari ibu yang suka menangis dan bapak yang suka memukul ibu.

“Kemarin malam Kak Abdi datang ke Margonda. Dia ikut kita nongkrong sampai pagi.” Riko bercerita sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara kota yang pengap.
“Kak Abdi ikut kalian ngelem? Atau ikut kalian ke losmen buat main-main sama Tante Rina?” Aku bertanya dengan mata sedikit terbelalak. Kaget.
“Enggak lah. Kita cuma minum-minum sedikit. Kak Abdi cuma ngeliatin kita sambil ngerokok dan cerita-cerita sampai ketiduran disana.” Jawab Bonek dengan gerak kepalanya yang khas, sepertinya ada sarafnya yang sudah putus karena kebanyakan ngobat.
“Kak Abdi baik, Har,” Deri menyahut setelah menghabiskan seplastik es teh, ”Dia bilang nggak apa-apa kita kayak gini. Tapi kata Kak Abdi, kita tetep harus inget kalau Tuhan masih peduli sama kita.”
“Peduli? Buktinya?” Aku menginterupsi kalimatnya. Hatiku selalu berdebar-debar tiap nama Abdi disebut.
“Ya kalau nggak peduli, kita nggak akan bisa seneng bareng-bareng kayak gini. Kita masih dikasih banyak temen baik. Masih dikasih duit buat mabok, buat ngelem, buat minta jatah Tante Rina…Kata Kak Abdi itu karena Tuhan yang Maha Baik.”
Ya. Aku tentu juga masih ingat. Suatu sore Kak Abdi menatapku lekat sambil berujar,”Hara, jika hidup mengharuskan kalian jadi bajingan, kalian harus jadi bajingan yang tetap punya cinta di hati. Bajingan yang nggak akan pernah memukul Ibu. Bajingan yang nggak menyusahkan hidup orang lain. Bajingan yang nggak membunuh…”

Aku adalah bajingan yang punya cinta di hati. Cinta untukmu, Kak Abdi.

Kau tidak lebih tampan dari teman-temanmu yang lain, para cendekia yang suka ha-ha-hi-hi setelah mengajar seolah-olah kami adalah anak TK yang gampang dibohongi untuk perintah menyanyi dan menari. Tapi matamu elang, senyummu sangat purba dan aku terhempas tanpa daya di pusarannya. Berkat kau, teman-temanku tidak terlalu melawan lagi pada para manusia terpelajar itu, mereka malah semakin bersemangat datang tiap hari Rabu dan Sabtu. Lucunya, mereka hanya mau berkumpul jika kau datang. Kau akan mulai mendongeng hal-hal lucu tentang Tuhan, menceritakan pengalamanmu hari itu, menyanyi dan memetik gitar dengan tiba-tiba, serta kadang-kadang berdiri untuk berlagak seperti artis sinetron yang memainkan peran. Mereka mendengarkanmu dengan senang, tapi mereka tidak mau belajar matematika ataupun bahasa inggris.
Pada satu hari Sabtu ketika kau pamit pulang dari terminal, aku pernah membuntutimu dengan menyambar motor Bang Mamat, tukang ojek terminal. Kau menuju ke arah kampus dan memarkir motormu di pelataran gedung bertuliskan Fakultas Ilmu Budaya. Kau melangkah cepat sekali masuk ke gedung itu hingga aku tak kuasa mengejar sosokmu. Lagipula, dengan penampilanku yang beda kelas dengan manusia-manusia kuliahan sebangsamu, aku tak punya cukup nyali.

Aku menikmati semua hal yang kau buat. Kurasa inilah yang disebut jatuh cinta.

Hari Rabu pada pekan yang ke sepuluh, akhirnya aku sudah tidak tahan lagi. Hari itu semua yang kulihat di terminal hanyalah bunga dan kupu-kupu beraneka warna. Udara sesak yang menguar berubah menjadi embun subuh hari yang menenangkan. Aku ingin sekali kau tahu perasaanku. Kalau saja bisa, biarkan aku lahir sekali lagi menjadi bunga. Yang kuncup, mekar, layu dan membusuk, pada dahan yang satu. Padamu. Kalau Tuhan memang Pemurah, aku ingin dia memberiku kesempatan. Kali ini saja.
Aku memakai pakaian terbaikku untuk pergi ke sekolah terminal. Aku juga memoles wajahku dengan sedikit foundation dan bedak. Penampilanku makin sempurna dengan memakai kaos ketat berwarna merah dan rok jins selutut andalanku. Kuharap kau akan tertarik dan mimpi-mimpi tentangmu yang telah menghantui selama dua bulan ini akan menjadi kenyataan.
Tapi, sepertinya harapanku tersangkut pada pilar-pilar tembok terminal yang sering membuat sinyal televisi rumah kami jadi buruk. Sore itu, Kak Abdi tak hadir mengajar. Hanya ada rombongan pengajar matematika dan bahasa inggris yang tak kami sukai. Demikian seterusnya pada pekan ke sebelas, ke dua belas dan seterusnya, hingga geng anak terminal tidak ada lagi satupun yang mau hadir untuk belajar pada hari Rabu dan Sabtu.
“Mereka memang brengsek, Hara! Aku dengar sendiri percakapan mereka. Mereka sepakat Kak Abdi nggak akan diundang buat ngajar lagi ke terminal.” Bonek kelihatan begitu gusar. Entah sudah berapa botol bir yang ia tenggak habis.
“Mereka bilang Kak Abdi ngajarin hal-hal buruk ke kita.” Deri berkata lirih sambil menghisap batang rokoknya dalam-dalam. Dari matanya yang memerah, ia nampak sangat kehilangan sosok seorang kakak yang selama ini ia dambakan.
Aku sendiri sudah tak kuasa berkata-kata. Maka kutinggalkan teman-temanku itu menikmati kekecewaan atas sebuah rasa percaya yang lagi-lagi dikhianati oleh seperangkat aturan baik-buruk orang-orang suci.




 

Aku selalu menunggumu di halte kampus depan gedung Fakultas Ilmu Budaya. Aku masih mengamen, tapi aku sudah tidak lagi melayani sopir dan kondektur terminal yang minta dipijit dan kemudian selalu menggagahiku hingga aku kelelahan. Untuk menggantinya, aku kini berjualan koran. Hasilnya lumayan. Anak-anak orang kaya yang belajar di gedung yang sama denganmu sering membeli koranku hingga habis

Aku masih menunggumu dengan harapan yang sama untuk menjadi bunga yang kembang pada dahanmu. Aku percaya kata-katamu, Tuhan pasti mendengar. Tugas kita hanya harus percaya sambil mengisi hati dengan banyak cinta. Aku meyakini pesanmu, meski hingga hari ini kau belum juga kulihat lagi.

Hingga suatu pagi yang bukan Rabu atau Sabtu, aku melihat nama dan fotomu di salah satu koran lokal yang kujajakan. Di foto itu kau tampak sumringah mendapat ucapan selamat dari rektor kampusmu karena mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Perancis.

Jalanan Depok semakin bengkak.
Udara semakin mampat.
Mataku berair.
Puisi-puisi perlahan meninggalkanku.
Tapi aku masih menyukai tubuh kecil, mata elang serta senyummu yang purba, Abdi Negara. Geng anak terminal telah berikrar untuk menjadi insan bajingan penaka Tuhan. Bajingan yang punya cinta. Dan aku menyimpan namamu hingga entah kapan kau kembali kesini, di kampus ini.
*Cerpen ini dimuat dalam buku antologi "Botol-botol berisi senja" yang diterbitkan oleh Taman Budaya Jawa Tengah.

Jumat, 27 Juni 2014

Mengembalikan Khittah Ulama

Ihwal patokan moral dan kebenaran di negeri ini memang tak jelas tolok ukurnya. Para founding fathers Republik menempatkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama pada Pancasila, yang tidak lain adalah falsafah hidup bangsa. Sila tersebut secara tidak langsung menitipkan amanat bahwa warga Negara Indonesia mesti menempatkan sifat-sifat Ketuhanan sebagai identitas kebangsaan. Pasal 29 ayat 2 UUD 1945 dan kolom agama dalam KTP yang sedang ramai diperbincangkan adalah sebuah seruan bahwa warga Negara Indonesia tanpa terkecuali wajib memeluk agama tertentu yang sah dan diakui di Indonesia.

            Identitas sebagai warga Negara yang beragama, lucunya, tidak begitu saja membuat seseorang mengerti akan agama yang dipeluknya. Ketidakmengertian inilah yang membuat banyak standar moral atau kebenaran menjadi bias. Islam, sebagai agama yang paling jamak dipeluk di negeri ini, misalnya, tidak menjamin bahwa semua muslimnya menjadi islami. Kadang saya merasa prihatin, bahwa untuk hal-hal yang remeh saja banyak umat islam yang tidak bisa menyelesaikan persoalan –yang dianggap berhubungan dengan agama- secara mandiri.

Bapak saya adalah seorang kyai kampung yang kerapkali didatangi masyarakat yang bertanya tentang banyak hal yang menurut saya menggelikan. Mulai urusan syara’ hingga urusan hakikat yang kadang susah untuk dijawab memakai bahasa yang sederhana. Padahal, tak semua persoalan bisa dijawab oleh Bapak saya. Namun, masyarakat lebih puas dengan pernyataan, “manut kaliyan Pak Kyai” daripada berusaha untuk mencari kebenaran sendiri.

Seperti kita tahu, agama islam memang lekat dengan tokoh yang bergelar ulama. Ulama berasal dari kata dasar ‘alim dalam bahasa arab yang berarti orang yang berilmu atau ilmuwan. Ulama adalah tokoh yang bertugas menyampaikan dakwah, nasehat ataupun kabar baik (apa saja) yang mempermudah kehidupan manusia dengan berdasar firman-firman Tuhan yang tertulis dalam kitab suci Al qur’an. Prof. Dr M. Quraish Shihab, ahli tafsir kontemporer Indonesia menyatakan ulama adalah orang yang mempunyai ilmu pengetahuan tentang ayat-ayat Allah SWT baik yang bersifat kauniyyah (fenomena alam semesta dan kehidupan) maupun qawliyyah (mengenai kandungan Al-qur’an).

Di Indonesia, kata ulama mengalami perubahan semantik yang serius, yakni sebatas juru dakwah agama islam atau sering disebut dengan istilah “ustadz” atau khususnya di Jawa, jamak disebut “kyai”.  Pada musim politik, ulama di Indonesia laris manis. Kunjungan tokoh politik kepada para pengasuh pondok pesantren diliput oleh media massa. Pondok pesantren adalah basis massa yang kuat yang sangat ta’dzim kepada ijtihad politik kyai/pengasuhnya. Mendapat keberpihakan petinggi pondok pesantren artinya mendapat suara yang dapat dihitung pasti secara kuantitatif.

Dalam buku Ulama dan Kekuasaan, Jajat Burhanudin (2013) memberikan dokumentasi sejarah yang sangat menarik tentang perkembangan dunia islam ulama di Indonesia. Setelah melalui zaman kerajaan, era kolonial dan kemudian tumbuh gerakan para ulama anti-kolonialisme yang disebabkan oleh gerakan politik etis, muncul gerakan reformisme Islam. Gerakan ini memunculkan  perubahan kiblat intelektual dari Makkah ke Kairo. Para ulama reformis tersebut merespons dan memodernisasi pusat-pusat pengajaran Islam di pesantren-pesantren tanah air. Salah satu buah reformasi islam ini adalah kelahiran Muhammadiyah pada tahun 1912 oleh Ahmad Dahlan. Adapun tokoh ulama tradisionalis yang tetap mempertahankan ideologinya adalah Wahab Hasbullah yang dengan restu ulama sepuh Hasyim Asy’ari, mendirikan Nahdatul Ulama (NU) di tahun 1926.

Keterlibatan ulama di dalam politik praktis merupakan cara lain untuk menegaskan keberadaan mereka di era pasca-kolonial. Mereka mulai menggunakan peranan dalam beberapa posisi strategis di pemerintahan, seperti Kementrian Agama, sebagai pelindung konstituennya. Pada zamannya, cara ini menuai suara kritis dari tokoh-tokoh muslim baru yang menamakan diri, “intelektual Muslim.” HMI adalah salah satu bentukan organisasi yang mewakili kelompok ini.

Ulama dan kekuasaan dalam babad perpolitikan Republik semakin riuh di tahun politik ini. Perbedaan ijtihad politik para ulama membuat masyarakat kebingungan. Tak jelas lagi mana yang merupakan batas antara misi kemaslahatan umat dan ambisi pribadi dan golongan untuk berkuasa. Ulama memberikan fatwa untuk memilih pihak A ataupun pihak B. Adapula ulama yang terang-terangan menyerukan bahwa sikap politiknya adalah golongan putih (golput) atau tidak percaya pada Negara.

Bagi saya, semua sikap itu tidak pada tempatnya. Ulama sebagai pewaris para nabi (waratsat al anbiya’) mestinya menjalankan tugas-tugas profetik amar ma’ruf nahi munkar. Kita tentu lebih mengharapkan ulama yang dapat mengambil sikap moderat. Moderat yang saya maksud adalah mereka yang cukup memosisikan diri sebagaimana mestinya, yakni memberi pencerahan kepada umat melalui pengetahuan yang komprehensif tentang perspektif kaidah memilih pemimpin serta meredam fenomena sentimen simpatisan politik yang marak dan semakin bergejolak akhir-akhir ini.

Dalam islam, hakikat penciptaan manusia tercantum dalam Q.S Al Baqoroh (2: 30) bahwa manusia terlahir untuk menjadi pemimpin. Berdasar ayat itu, umat mestinya sadar tentang persamaan manusia dalam tanggung jawab mencari ilmu dalam upaya pencapaian kemandirian berpikir.

Walaupun bukan satu-satunya tolok ukur kebenaran, nilai-nilai kemanusiaan adalah sisi sangat penting dalam ajaran tauhid. Dalam buku Kuliah Tauhid, Muhammad Imaduddin Abdulrahim (1993) menyatakan bahwa nilai kemanusiaan yang paling utama ialah kemerdekaan. Proses pergaulan yang tidak seimbang adalah sejarah munculnya kultur tindas menindas, hisap menghisap, peras memeras dengan segala taktik dan tehnik yang bersangkutan dengan itu. Semua sikap tersebut merupakan bentuk-bentuk dari proses memberi-dan-menerima yang tak seimbang.

Munculnya kelas-kelas dan tingkat-tingkat kebangsawanan di dalam masyarakat manusia pada awalnya disebabkan oleh mengalahnya kemanusiaan terhadap orang yang suka menganggap dirinya lebih baik dan lebih mulia dari yang lain, sebagaimana dijelaskan di atas. Ulama yang merasa berhak atas kemerdekaan manusia lain, termasuk dalam pilihan politiknya, dapat diduga bahwa dirinya merasa lebih baik dari masyarakat biasa.

Kemerdekaanlah satu-satunya nilai yang membedakan manusia dengan makhluk yang lain. Tanpa kemerdekaan manusia tidak mungkin dapat menjalani hidupnya sebagai manusia. Oleh karena itu, harga diri setiap manusia justru diukur dengan derajat kemerdekaan yang bisa dihayati dan dipertahankan manusia itu, untuk selanjutnya memanifestasi dalam berbagai amal kebaikan untuk menjadi khalifah fil ardh atau wakil Tuhan di bumi.



Selasa, 03 Juni 2014

Hijab, My Way of Life




Dear, sejak usia berapa kalian pake jilbab? Atau ada diantara kalian yang sudah masuk usia baligh (remaja) tapi sampai sekarang belum berjilbab?

Alhamdulillah, saya sudah berjilbab sejak masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dari kecil usia TK dan SD sudah pakai jilbab sih, tapi cuma dua jam saja sehari alias saat berangkat mengaji di madrasah hihihi. Ceritanya nih, karena saya sekolah di sekolah negeri, saat mendaftar ulang dan mengisi formulir, ada pilihan tentang seragam untuk siswa perempuan, yaitu berjilbab atau tidak berjilbab. Saat itu, saya tidak langsung selesai mengisi formulir, salah satunya yaitu karena bingung mengisi satu pertanyaan tersebut. Saya harus pulang dulu ke rumah dan bertanya pada ayah tentang pilihan model seragam mana yang harus saya pilih. Saat itu, tanpa berpikir panjang, ayah menjawab,”pilih yang berjilbab!”

Saya pun tidak langsung menerima jawaban ayah. Saya perlu bertanya mengapa saya harus berjilbab kepada ayah sebab sebagian besar teman tidak melingkari pilihan berjilbab pada formulir.

“Biar kamu nggak bandel. Biar jadi anak perempuan yang bener.” Jawab ayah dengan lembut.

Saya sempat nyengir. Jujur, saat itu saya kebingungan dengan jawaban ayah. Saat kecil saya memang begitu hiperaktif dan jauh dari kesan-kesan perempuan yang lembut. Saya suka manjat pohon, lari-lari dan main di lapangan mulai main layang-layang sampai sepakbola bareng teman-teman laki-laki, dan yang paling “nggak perempuan banget” adalah volume suara saya yang begitu keras dan cenderung kasar (kalau ini bawaan ras pantura hihi). Walaupun hingga sekarang, nyatanya mungkin saya juga masih jauh dari indikator “perempuan bener” yang diharapkan ayah, Ups! Iya, volume suara saya tetap keras ketika berbicara di depan kelas atau depan orang banyak, saya masih banyak polah dan juga tetap lari-lari karena memang lari adalah olahraga yang paling saya sukai.

Setelah mendapat jawaban dari ayah, saya tidak lagi membantah. Dengan penuh rasa bingung di hati, saya lingkari saja pilihan seragam berjilbab. Mulai sejak itu, jadilah saya resmi menjadi seorang jilbaber. Iya, dahulu saya berjilbab hanya karena perintah ayah. Perintah ayah yang hingga sekarang selalu saya syukuri. Kenapa?

OK, Sebelum menjawabnya, saya akan ceritakan dulu tentang apa itu jilbab dan mengapa muslimah harus berjilbab agar kalian lebih ikhlas berjilbab semata-mata karena Allah, dan tidak semata karena perintah orangtua, ya!

Perintah Jilbab
Jilbab atau hijab secara bahasa berasal dari kata jalaba yang berarti menghimpun atau menutup. Sesuai namanya, kemudian model penutup kepala ini dipakai oleh perempuan di negeri-negeri berpenduduk muslim dengan berbagai model dan nama yang berbeda-beda.
Di Indonesia disebut jilbab atau kerudung, di Iran disebut chador, di India dan Pakistan disebut pardeh, di Libya disebut milayat, di Irak disebut abaya, di Turki disebut charsaf, dan tudung adalah sebutan di Malaysia. Di Negara-negara Arab-Afrika disebut hijab.
Perintah berjilbab bagi muslimah secara langsung disebut Allah dalam Al Qur’an, antara lain QS Al Ahzab : 59 dan QS An Nur :31.

~ QS Al Ahzab : 59
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin : “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

~ QS An Nur : 31
Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (dari pandangan yang haram) dan memelihara kehormatan mereka dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang biasa nampak daripadanya dan hendaklah mereka menutupkan kain ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita). atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Ayat tentang jilbab itu turun sebab istri nabi Aisyah RA difitnah telah berbuat hal yang tidak sepatutnya sehingga menyebabkan harga dirinya sebagai wanita direndahkan. Nah, sejak ayat itu turun maka perintah berjilbab menjadi wajib bagi muslimah. Jika berbicara konteks zaman yang ada, maka jawabannya pun akan sesuai kok. Kita memakai berjilbab agar tidak mudah dikenali, maksudnya diri kita akan terjaga dari hal-hal yang tidak sepatutnya menimpa wanita. Selain itu, jilbab juga akan membantu lawan jenis dalam menahan pandangan dan akhirnya lebih menghormati kita karena kita pun telah member kehormatan pada diri kita terlebih dahulu. Bener nggak? Iya dong?

Kalau ada perbedaan, buat saya, sederhana aja dalam menanggapi pro-kontra tentang jilbab. Buat muslimah yang sudah baligh, jilbab itu ya setara dengan perintah sholat, atau perintah berpuasa di bulan ramadhan : hukumnya wajib. Nah, tentang bentuk atau panjang pendeknya nih yang sering jadi perdebatan. Ada yang nanya gimana tentang model jilbab yang bener atau busana yang bener buat muslimah. Emang yang gimana sih, guys?

Menurut saya nih, kalau sudah meniatkan diri pake jilbab, kalau bisa ya…jangan cuek-cuek banget. Mesti diatur dulu niatnya agar nggak gampang goyah di tengah jalan. Sebelum pake jilbab, kita tanya dulu ke dalam hati kita : “pake jilbab buat siapa sih?”

Kalau jawabannya adalah dalam rangka ibadah, untuk jadi muslimah keren yang taat sama Allah, berarti harus berarti komitmen pake aturan Allah dong ya?
Nih saya kasih bekel pake jilbab yang wajib dijaga bener sama muslimah :

  1. Nggak tipis atau jangan sampai tembus pandang
Niatnya kan menutupi, jadi jangan sampai keliatan mana-mana yang kita sembunyikan. Hoho!

  1. Menutupi dada
Yang ini wajib nggak pake nawar ya…Harus pokoknya!

  1. Tidak ketat atau membentuk tubuh.
Jangan sampai udah berjilbab tapi ternyata pakaian yang dipakai malah lebih menantang dari muslimah yang belum berjilbab ya, Dear. Sayang nanti pahalanya kabur lagi. Ingat, tujuannya agar kita “tidak dikenali”. Nah kalo pakaiannya ketat atau membentuk tubuh, so pasti akan jadi pusat perhatian kan? Jadi, diperhatikan ya…kita menutup, bukan membungkus.

Remember : Syari’at Comes First

            Aduh! Saya tuh sering banget denger keluhan orang-orang yang ngomongin muslimah berjilbab.
            “Jilbaber bau badan!”
            “Jilbaber bajunya nggak match, warnanya ngejreng dan nyolok mata!”
            “Jilbaber bajunya kegedean, nggak modis!”

           Dan serentetan protes-protes lain yang kadang bikin saya sedih. Sayangnya, keluhan-keluhan mereka itu memang bener-bener sering kejadian. Harusnya, kita yang berjilbab bisa lebih mengatasi hal itu.
Keindahan adalah identitas yang “muslimah banget”. Allah pun suka yang indah-indah, tapi ternyata nggak suka sama yang kecentilan loh! Hehehe… Jadi, buat para jilbaber, indah itu wajib, tapi niatnya bukan untuk tabarruj (alias sok centil dan menggoda). 

Buat yang berbadan besar, kalau bisa nggak cuma sekadar mikirin model yang dipake, tapi bisa disiasati dengan warna juga lho! Kalau yang berbadan ramping mah nggak masalah ya, tinggal fokus ke model aja biasanya. Ingat juga, urusan make up kalau misalnya pengen coba-cona juga nggak boleh tebel-tebel ya Dear…yang tipis-tipis aja sekedar biar kelihatan seger dan nggak bikin orang ilfil sama kita karena wajahnya nampak lesu gitu. Jadi karena nggak bisa maen-maen sama make up, jadilah kita hanya boleh bermain-main di seputar model dan warna di busana dan jilbab yang kita kenakan saja. Warna-warna cerah akan memberi kesan lebih segar dan muda, tentu saja juga akan lebih gampang dipadupadankan. Warna-warna gelap cenderung terkesan tua (klasik), resmi dan kurang variatif. Eh, yang ini opini pribadi sih…Hihihi…

Padu padanin apa yang kita pakai jelas boleh dong…Siapa tahu dengan semakin diterima masyarakat dan terlihat nyaman dipakainya, jilbab yang kita pakai jadi ajang dakwah juga buat kita secara nggak langsung. Wah, nggak Cuma jadi amal pribadi, tapi juga jadi berbuah pahala yang dobel-dobel deh!

Satu lagi, jangan pake sesuatu yang justru membuat kamu nggak nyaman. Misalnya ngikutin tutorial berjilbab ala model catwalk, padahal kamu Cuma mau pergi ke kampus atau ke tempat les. Ujung-ujungnya kamu ribet sendiri pas kain jilbabnya geser-geser. Atau pake model cardi atau gaun yang ribet, yang bikin kamu nggak pede pakenya. Niatnya pengen cantik, tapi ujung-ujungnya malah jadi cemberut dan bête nggak karuan karena nggak nyaman. Nggak asik banget, kan, Dear?
Satu lagi nih yang penting, nggak ada ceritanya kita berdamai dengan pendapat umum tapi menafikkan aturan syar’i. Jadi kalau misalnya di masyarakat lagi ngetren busana jilbab tapi kainnya terlalu jatuh dan membentuk tubuh (astaghfirullah…) kita nggak boleh ikut-ikutan. Yang bisa kita lakukan adalah harus tetep syar’I sambil tetap berjuang sebisa mungkin agar diterima sama masyarakat. Semua pasti ada caranya. Kalau untuk kebaikan, kita percaya dengan izin Allah, Allah pasti akan memudahkan…

Jangan lupa, jilbabers juga boleh banget kok lihat-lihat bagian mode majalah biar kita bisa dapet referensi model dan warna busana yang kira-kira cocok dan pas buat kita. Saya malah hobi nyari model-model terbaru terus beli kain sejenis dan dibawa ke tukang jahit biar bisa bikin model elegan dengan harga yang lebih murah. Namanya juga cewek, maunya berhemat!

Biar tetep istiqomah dan makin keren jadi muslimah jilbabnya, saya ada beberapa tips nih :
  1. Tetep bikin jadwal mengaji
Kadang ada yang takut pake jilbab dengan alasan belum siap atau wawasan keislamannya masih kurang. Nah loh! Sebenernya ini kan nggak ada hubungannya. Yang pake jilbab juga bakal kurang wawasan keislamannya kalo dia berhenti dateng ke kajian. Kain jilbab doang nggak bisa bikin tiba-tiba kita jadi alim atau tambah takwa sama Allah. Ia hanya selembar kain ringan agar kita lebih terjaga. Artinya, jadwal mengaji itu penting banget buat muslimah berjilbab agar ilmu keislamannya terus bertambah dan akhirnya jadi muslimah yang santun dan keren deh tjoy!
  1. Tambah gabung ke komunitas keislaman (Rohis, LDK, Kajian Islam Kontemporer dan lain-lain)
Biasanya, berada dalam orang-orang yang satu visi akan menambah keyakinan dan semangat kita. Kalo gabung sama temen-temen yang visinya ke surga, insyaAllah kita bakal semangat juga menggapai surganya Allah. Di komunitas keislaman itu, kita akan dapet pengalaman atau banyak kesempatan untuk mempraktekkan ilmu-ilmu yang kita dapet teorinya dari kajian. Nah, lengkap deh bekel jadi muslimah!
  1. Jadi Kamu yang Kayak Biasanya Aja
Walaupun udah berjilbab, bukan berarti kamu jadi malaikat. Nggak ada seorangpun yang paham dalamnya hati seseorang. Nggak ada seorangpun di dunia ini yang berhak menilai kualitas keimanan seseorang pada Allah selain Allah sendiri. Jadi, jangan ngerasa paling bener kalau kita udah pake jilbab. Udah sepakat kan kalau kita pake jilbab karena wajib? Jadi, urusan-urusan lain ya tetep sama. Sebagai hambanya Allah yang biasa aja, kita harus tetep berkawan sama siapa saja, harus tetep menolong orang siapapun itu yang membutuhkan pertolongan, dan nggak harus menutup diri cuma agar dilihat “beda”. Berjilbab boleh jadi apa aja yang kamu cita-citakan, loh! Asal cita-citanya nggak bikin kamu menanggalkan jilbab yang hukumnya wajib….

Finally, Kokohkan dan selalu perbaiki niat ya, Dear Jangan tergoda sama temen-temen yang make jilbab tapi pake kaos ketat atau pake celana ketat yang jadinya kaya bungkusan lontong atau lepet hihi…Apalagi yang punggungnya atau perutnya masih kemana-mana padahal kepalanya dijilbabin, naudzubillah…

Kita harus selalu bertanya dan bertanya kembali : untuk ego dirikah? Biar keliatan alim kah? Ngikutin tren kah? Menutupi kekurangan fisik? Atau memang seratus persen murni karena Allah? Semoga kita termasuk yang golongan terakhir dan selalu terjaga sampai kapanpun ya, Dear! Aamiin insyaAllah..

Kamis, 29 Mei 2014

Kesaksian!



Orang-orang harus dibangunkan/ Aku bernyanyi menjadi saksi/ Kenyataan harus dikabarkan/ Aku bernyanyi menjadi saksi. 

Sayup-sayup terdengar suara getir Iwan Fals yang menyanyikan lagu “Kesaksian”. Perkawinan musik dan syair puisi WS Rendra yang menghasilkan karya masyhur yang termuat dalam album Kantata Takwa (1990) tersebut membangunkan rasa gusar di hati. Pada akhirnya, saya lelah melihat beragam nilai kebenaran yang ditelan habis oleh kotak bodoh bernama televisi. Semua simbol agung yang terwakili oleh akademisi, intelektual, golongan terpelajar yang memakai almamater institusi keilmuan, kaum agamawan, seniman dan budayawan, semua bercericit riang dalam format acara bernuansa hiburan dan komedi. 

Hari ini, nampaknya memperbincangkan kebenaran bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Perihal keadilan boleh diperbincangkan berseling dengan canda tanpa makna dan irama musik mainstream. Ihwal gagasan kebangsaan boleh diwakilkan tanggungjawabnya oleh selebriti dan komedian, kita jamak melihat mereka berpendapat tentang apa saja, tanpa menghadirkan solusi dalam program infotainment. Calon Presiden hadir menyetor senyum penuh pamrih pada acara ajang hiburan pencarian bakat bernuansa bisnis komoditi kapitalisme. Oh, tentu kita tak boleh mengharap ia akan menyampaikan sebuah platform ideologis-kultural-kebangsaan dan menyuarakan hak-hak rakyat diatas panggung gemerlap. Sang Jendral hadir beberapa detik ikut menyerahkan hadiah kepada pemenang, menghadirkan citra ramah dan gagah lewat senyum dan lambaian tangan. Presiden kita, telah kita ketahui lebih dahulu menelurkan album tembang-tembang gubahannya sendiri. 

Kita bukan bangsa yang murung. Bohong jika ada yang berdendang ibu pertiwi sedang bersusah hatinya. Kita bangsa yang kelebihan hiburan. Setiap hari kita bahkan diberi komando untuk menari secara massal diiringi lagu dangdut yang seakan tidak ada kata basi untuk ditayangkan pada waktu prime time. Tak perlu risau, saya sendiri sudah kehilangan nalar kritis untuk memahami habitus apa yang sedang dicita-citakan oleh para pekerja kreatif yang ada disebalik media televisi.

Pelan-pelan kita diarahkan untuk menjadi generasi tuna pikir. Penjajahan fisik memang telah lama berakhir, tapi penjajahan non-fisik terus dilanggengkan. Orde baru boleh jadi membungkam mulut kita, namun di abad pemikiran, justru nalar pikir kita yang terbungkam. Kebohongan-kebohongan lancar mengalir di jalan raya mulut kaum-kaum intelektual yang kerap tampil untuk berdebat di layar kaca. Isu ketidakadilan hukum, pelanggaran Hak Asasi Manusia dan pelanggaran hak-hak rakyat lebih baik ditenggelamkan atau dapat diputarbalikkan sesuai keinginan. Urusan pembentukan opini publik, tinggal “wani piro” sajalah, bro!

Negara ini telah merdeka dan berdaulat sejak dibacakannya proklamasi atas nama bangsa Indonesia oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945, katanya. Namun, kita dipaksa untuk lupa bahwa hari ini fakta keadilan dan kebenaran tidak pernah lebih tinggi dari keinginan para politisi, raja-raja dan tentara. Ibarat bangunan, dari dalam rumahnya, polemik ekonomi, hukum, sosial, budaya, agama dan pendidikan hanya sebatas make up di negeri pesolek. Semua urusan itu tak harus diperbincangkan dengan serius bersama ahlinya, tak mesti diperjuangkan untuk mencapai tujuan bernegara. Oleh karena itu, sah-sah saja jika kursi parlemen diduduki oleh wajah-wajah selebriti. Kita hanya butuh bersolek dan melakukan politisasi!

Sementara di luar bangunannya, para penguasa sibuk mencari cara untuk menakut-nakuti rakyatnya. Rakyat yang merupakan pemilik sah negeri ini. Kita tak bisa lupa bahwa negeri ini berdiri diatas darah para aktivis yang bahkan hingga hari ini tak dapat kita temukan pusaranya sebab dibungkam oleh doktrin fasisme. Penguasa berotak penculik dan pembunuh itu melupakan satu hal, bahwa ketakutan yang terus menerus disuguhkan lama-lama akan menimbulkan kebosanan. Rakyat telah bangun untuk melawan, rakyat telah menebar biji-biji di temboknya dan berteriak : Kau harus hancur! Kau harus hancur! Demikian Wiji Thukul memekik dalam sajak Bunga dan Tembok (1994).

WS Rendra memang telah mati. Presiden SBY tak kenal siapa Rendra. Ia menyampaikan duka belasungkawa pada kematian selebriti tapi tak berkata apa-apa untuk kematian Rendra. Tapi demi Sang Burung Camar yang telah berada di surgaNya, pesannya sebelum mati senantiasa terhujam dalam dada, yakni agar kita semua terus menjadi saksi… 

Hari ini, kami menjadi saksi atas elite tamak yang terus memperdalam neoliberalisme, undang-undang ketenagakerjaan yang memasung buruh dan hak-hak pribadinya, privatisasi dan bisnis pertanian yang mengangkangi kepentingan petani skala kecil dan buruh tuna-tanah, miliaran dolar yang dipindahkan ke bank-bank internasional, serta penghisapan sumber daya alam nasional yang menistakan posisi masyarakat adat… kami berikan kesaksian!

Orang-orang harus dibangunkan. Rakyat Indonesia belum merdeka, para founding fathers hanya sempat mengantar hingga pintu gerbangnya . Soekarno (1963) selalu berpesan bahwa Revolusi Indonesia belum selesai.  Perjuangan melawan bangsa sendiri lebih sulit dari melawan penjajah. Kita tak ingin negara kita hanya menjadi peta, apalagi peta yang lusuh dan tinggal disobek pula. Nasionalisme bergerak harus segera dibangkitkan, revolusi mental harus didukung. Kita butuh memaknai kembali Pancasila agar tidak saling berebut merumuskan cita-cita dalam tenun kemajemukan bangsa.

Orang-orang harus dibangunkan. Tak pernah ada Negara yang utuh tanpa rakyat yang dimanusiakan. Kekuasaan borjuasi oleh kelas priyayi buah perkawinan budaya kolonialisme dan feodalisme mesti dicerabut hingga akarnya, diganti dengan kesadaran demokrasi yang sesungguhnya. Ritus sosial media hanyalah panggilan perjuangan untuk segenap lapisan. Aksi massa yang sesungguhnya butuh agitasi, orasi dan propaganda di dunia nyata. Lapis kekuatan sosial yang memperjuangkan rakyat tak akan selesai dengan reply dan retweet.

Orang-orang harus dibangunkan, Segala hajatan yang berkaitan dengan nasib rakyat seperti agenda memilih pemimpin mestinya merupakan pergelaran basis ideologis yang menawarkan agenda pencerdasan hingga rakyat turut merasa optimis. Kontestasi bermartabat bukan sekadar lolongan saling fitnah, namun mengemukakan strategi ideologis untuk memuliakan rakyat demi mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Kami akan terus menjadi saksi…

Ps : Terimakasih buat yang sudah mengenalkan album Kantata Takwa ke saya :D :D




Kamis, 15 Mei 2014

Senja Bersama Kamu

Pada suatu siang kau mengirimkan sebuah pesan di ponselku. 
“Bersiaplah. Pukul 16.00 tepat kita akan berangkat ke suatu tempat.”
Aku bersungut. Kau memang selalu penuh dengan kejutan, sekaligus termasuk banyak hal yang sulit aku kabulkan ketika aku sedang malas.
“Kemana?”
Aku diam-diam segera berjingkat dari kasur kos dan meraih handuk serta peralatan mandiku. Aku tahu, kau akan memberikan satu kisah lagi hari ini. Kisah kita, yang mungkin menjadi satu-satunya hal yang tidak berubah menyedihkan ketika kita menjadi tua nanti.
Pukul 16.00. Kau datang tepat waktu seperti biasanya. Tadi kau bilang pada pesan balasanmu bahwa kita akan pergi ke suatu tempat yang tak kan membuatku menyesal melewatkan hari ini.
“Tenang saja. Tempatnya dekat.”
“Berapa lama?” tiba-tiba aku risau. Kelakuanmu sering kali berbahaya.
“7 menit.”
Otakku mulai berputar-putar mengingat tempat-tempat mana yang mungkin akan kita kunjungi sore ini. Sepertinya tidak ada tempat special di sekitar kos, kampus atau sanggar seni yang menarik untuk ditempuh dalam waktu 7 menit. Kalau sekedar melihat kereta melintas di rel yang terbangun diatas sungai bengawan solo, bukankah itu sangat biasa kita lakukan? Oh, bahkan kebiasaan kita yang inipun sangat aneh dan tidak wajar. Belakangan, suara kereta yang berderu itu selalu membawa kita untuk mengingat rumusan matematika yang kerap membuat manusia menjadi terburu-buru : jarak, keberangkatan, kecepatan, perjumpaan dan perpisahan.
Kau membawa motormu pelan-pelan. Aku tidak asing dengan padatnya jalanan yang kau belah. Hingga kemudian berbelok pada jalan-jalan pedesaan yang belum pernah aku jamah, padahal kurang lima menit saja jaraknya dari kosan. Keberanian manusia memang jarang terlatih ketika telah menemukan jalur-jalur aman, seperti contohnya aku yang tak pernah ingin menemukan tempat kemana kau bawa aku saat ini.
Matahari mulai bergerak ke arah barat. Sebentar lagi senja. Sepertinya ini senja yang ke-berpuluh kali yang kulewati hanya denganmu saja. Sekali dua kali tanpa kau tahu, aku menjadi takut memiliki lebih banyak kenangan bersamamu daripada dengan suamiku nanti. Sial.
Kita berhenti pada sebuah buk tepi jalan pedesaan.Benar. Hanya 7 menit. Aku melihat sawah menghampar di sisi kanan dan kiri. Masih hijau benar. Para petani baru selesai bertanam. Sebagian tanah masih hitam karena belum selesai dibajak. Pada sawah sisi kiri, mataku merayapi gunung lawu yang nampak gagah. Dan pada sisi kanan, gunung merapi terlihat manis disebalik rimbun bukit. Tepat di bawah buk tempat kita duduk adalah selokan kecil beraliran air jernih yang membelah pematang. Kulitku agak basah dengan sisa hujan tadi siang yang meninggalkan jejak pada pucuk-pucuk daun pohon sirsak yang memayungi kita.
Kita bertatap sebentar. Mata kita saling mengucap terima kasih. Kemudian kau mulai bercerita bahwa sejak menjadi mahasiswa baru di kota ini kau seringkali mengejar senja di tempat ini. Apakah sendiri, bersama mantan kekasihmu, dan kembali sendiri dengan membawa luka-luka lama. Namun sore itu, aku bersamamu. Berdua saja.
“Gunungnya indah sekali. Mirip sekali dengan yang ada di lukisan. Aku sering bertanya mana yang hadir lebih dulu, apakah penciptaan dari mahakarya berupa ala mini ataukah lukisan yang indah sekali.”
“Tapi pastilah alam ini hadir lebih dahulu ya. Sebab Tuhan tidak pernah menyontek. Dan lukisan itu, dapat kusebut indah juga sebab memori tentang eksistensi alam yang lebih dahulu menjadi pengalaman dan pengetahuanku.”
Aku sibuk mengambil posisi terbaik untuk mengabadikan beberapa potongan cerita. Kubidik gambar gunung lawu dan merapi yang memiliki latar warna senja berbeda. Tak ketinggalan juga beberapa petani yang mulai memaknai kembali kaosnya setelah letih bertanam seharian. Aku membayangkan cinta yang menyambut mereka sesampainya di rumah nanti, tentang istri dan anak-anak yang merasakan rindu lengkap dengan menu makanan sederhana yang telah terhidang.
Sejak sore itu, aku menjadi lebih sering memandangi senja. Kadang aku iseng mencoba memberikan makna ini dan itu, mengamati tiap detail warnanya yang berubah-ubah mulai sejak kuning keemasan hingga menjadi abu-abu tua. Dan disela mega yang menghampar di luas cakrawala itu, ada ingatan tentangmu. Bukan, bukan tentang wajahmu. Apalagi senyummu. Tapi suaramu yang berisik ketika sedang bercerita.
Kau bilang kau khawatir bahwa suatu saat sore yang seperti ini tak akan pernah kita lihat lagi.
“Tiga tahun lalu pertama kali aku kesini, rumah-rumah itu belum ada. Hanya ada sawah yang sangat luas. Tapi sekarang, perumahan-perumahan baru semakin mencuri kesenangan sederhanaku ini.”
“Kesenangan murah maksudmu?”
“Ya. Kita jarang sadar bahwa yang murah itu sesungguhnya sangat indah dan mahal. Bentuk-bentuk awan itu setiap harinya tidak pernah ada yang sama. Tuhan memang Maha Besar.”
Kau terdiam sejenak sambil memandang kaki langit.
“Aku benci dengan budaya di Indonesia yang bilang seakan-akan kalau anak sudah berumah tangga itu wajib untuk membeli rumah baru. Kalau tidak sanggup beli rumah, dibilang tidak mampu. Padahal tidak ada teori yang berkata seperti itu. Akibatnya apa? Perumahan-perumahan baru semakin banyak. Masalahnya, rumah yang sudah terbangun nggak akan bisa kembali jadi sawah lagi.”
Aku mendengarkan dengan seksama. Era Industrialisasi memang merampas banyak hal yang bisa kita dapatkan secara gratis. Air, keakraban di tempat umum, apalagi hari ini yang bebas dari membayar? Hanya cinta. Itu juga tidak berlaku untuk cinta yang punya kekhawatiran tidak mampu hidup layak.
“Aku ingin punya anak yang cerdas.”
“Cerdas bagaimana?”
“Bayangkan jika suatu saat aku melarang anakkku untuk melakukan suatu hal dengan alasan hal tersebut berbahaya. Kemudian dia bisa menjawab : itukan menurut ayah? Kemudian kami berdeat kecil untuk menyimpulkan apakah hal itu boleh dilakukan atau tidak. Menyenangkan sekali punya anak yang cerdas seperti itu.”
“Itu cerdas atau bandel namanya?” Alisku berkerut-kerut sambil membayangkan ada seorang anak laki-laki kecil seperti dirimu yang sedang bermain layang-layang di hamparan sawah di depanku.
“Cerdas. Tapi aku butuh calon ibu yang cerdas juga biar cita-citaku itu berhasil.”
Mengenalmu, aku menjadi yakin bahwa persahabatan adalah hubungan paling megah yang bisa dibangun antar sesama manusia. Tidak sekalipun pernikahan ataupun hubungan antara sepasang kekasih bahkan bisa menandinginya. Tapi, oh, lagi-lagi kau pasti akan menyela.
“Tidak,” Katamu, “Sebab semua yang memberikan sebagian dirinya dengan cinta, sudah pasti menjadi luhur.”
Aku mengangguk bersepakat. Entah yang keberapa kalinya. Setiap kata-katamu memang manis.
Hari mulai gelap. Matahari tertutup sabut awan kelabu. Seperti biasanya, kita sudah terlalu banyak ngelindur hari ini.